Peristiwa Internasional

Pengiriman 3.500 Bom ke Israel Dihentikan, Ini Alasan AS

Kamis, 09 Mei 2024 - 14:08 | 14.87k
Presiden AS Joe Biden menyatakan AS tidak akan memasok bom besar ke Israel.(FOTO: Reuters)
Presiden AS Joe Biden menyatakan AS tidak akan memasok bom besar ke Israel.(FOTO: Reuters)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Jurang pemisah antara AS dan Israel semakin lebar, setelah pemerintahan Biden menghentikan pengiriman 3.500 bom ke Israel pekan lalu karena khawatir digunakan untuk menyerang kota Rafah, Gaza selatan. 

Seorang pejabat senior pemerintah mengatakan,  bom yang rencananya akan dikirim ke Israel itu terdiri dari 1.800 bom seberat 2.000 pon (900kg) dan 1.700 bom seberat 500 pon (225kg). 

Para pejabat itu menambahkan, AS khawatir dengan penggunaan bom yang lebih besar yang  digunakan di lingkungan perkotaan yang padat. 

Militer Israel kemarin mengambil kendali atas penyeberangan Rafah di sisi Gaza, memicu kekhawatiran akan terjadi serangan besar-besaran. 

Lebih dari satu juta warga sipil berlindung di Rafah setelah melarikan diri dari wilayah lain di Gaza akibat serangan udara Israel. 

Secara historis, AS telah memberikan bantuan militer dalam jumlah besar kepada Israel. 

Namun pemerintahan Joe Biden mulai meninjau transfer bantuan militer di masa depan ketika Israel tampaknya semakin dekat untuk menghabisi Rafah. 

Kekhawatiran juga semakin meningkat secara pribadi di Gedung Putih mengenai situasi di Rafah.

Tetapi para pejabat pemerintah tidak menganggap operasi tersebut sejauh ini bertentangan dengan peringatan Biden terhadap operasi skala besar di kota tersebut.

Hamas Peringatkan Israel

Hamas telah mengirimkan peringatan kepada Israel, dengan menyatakan bahwa negara tersebut tidak akan mencapai kesepakatan gencatan senjata jika agresi militernya di Rafah terus berlanjut. 

Osama Hamdan, salah satu pejabat kelompok militan menyampaikan komentar tersebut dalam konferensi pers di Beirut. 

Dalam sebuah pernyataan yang dikeluarkan oleh Hamas, ia mengatakan,  penyerbuan yang dilakukan tentara Israel terhadap Rafah atas desakan Netanyahu dan panglima perang ekstremisnya, jelas  sabotase semua upaya para mediator untuk mencapai kesepakatan untuk menghentikan agresi terhadap rakyat Palestina.

Selain itu, ini merupakan upaya putus asa Israel dalam menciptakan gambaran ilusi kemenangan untuk menyelamatkan muka. 

"Jika agresinya terus berlanjut, dia hanya akan menderita lebih banyak kekalahan dan aib," ujarnya.

Israel membombardir kota Rafah yang penuh sesak di Gaza, tempat Israel melancarkan serangan darat saat perundingan dilanjutkan hari Rabu di Kairo untuk mencapai persyaratan gencatan senjata dalam perang tujuh bulan tersebut.

Meskipun ada keberatan internasional, Israel tetap aaja mengirim tank ke Rafah pada hari Selasa dan merebut persimpangan terdekat ke Mesir yang merupakan saluran utama bantuan ke wilayah Palestina yang terkepung.

Duta Besar Israel untuk PBB mengecam Biden karena menahan senjata atas serangan Rafah

Gilad Erdan mengatakan, tindakan Presiden AS Joe Biden untuk menunda pengiriman senjata AS yang dapat digunakan Israel dalam operasi militernya melawan Rafah "mengecewakan" dan bisa memicu reaksi balik dari warga Amerika Yahudi yang pro-Israel.

"Tentu saja, setiap tekanan terhadap Israel ditafsirkan oleh musuh-musuh kita sebagai sesuatu yang memberi mereka harapan," kata Erdan kepada radio Kan Israel, menurut The Times of Israel.

"Ada banyak orang Yahudi Amerika yang memilih presiden dan Partai Demokrat, dan sekarang mereka ragu-ragu," katanya.

Joe Biden telah menetapkan garis merahnya dengan Israel, dan secara terbuka memperingatkan untuk pertama kalinya bahwa AS akan berhenti memasok senjata jika pasukan Israel melakukan serangan besar-besaran di Rafah. 

“Saya tegaskan bahwa jika mereka masuk ke Rafah… Saya tidak akan memasok senjata yang pernah digunakan dalam sejarah untuk menangani Rafah, untuk menangani kota-kota, yang menangani masalah tersebut," katanya dikutip dari pengakuannya kepada CNN. 

Pernyataan tersebut merupakan pernyataan terkuatnya sejauh ini mengenai masalah ini, meskipun AS telah menegaskan bahwa pihaknya tidak mendukung Israel melakukan serangan di kota Gaza selatan. 

Dia mengakui, senjata AS telah digunakan oleh Israel untuk membunuh warga sipil di Gaza. 

"Warga sipil terbunuh di Gaza sebagai akibat dari bom-bom tersebut dan cara-cara lain yang mereka lakukan untuk menyerang pusat-pusat pemukiman," katanya ketika ditanya tentang bom seberat 2.000 pon yang dikirim ke Israel.

Kemarin pagi juga dilaporkan bahwa AS telah menghentikan pengiriman bom ke Israel pada pekan lalu. 

Komentar terbaru presiden AS tersebut menandai semakin besarnya keretakan antara Amerika dan Israel, yang secara historis merupakan sekutu kuat. 

Biden mengatakan AS akan terus memberikan senjata pertahanan kepada Israel, termasuk sistem pertahanan udara Iron Dome. 

"Kami akan terus memastikan keamanan Israel dalam hal Iron Dome dan kemampuan mereka menanggapi serangan yang terjadi di Timur Tengah baru-baru ini," katanya. 

"Tapi itu salah. Kami tidak akan, kami tidak akan memasok senjata dan peluru artileri," tegasnya kemudian.

Gedung Putih mengutuk gangguan terhadap pengiriman kemanusiaan, dan seorang pejabat senior AS kemudian mengungkapkan bahwa Washington telah menghentikan pengiriman 3500 bom setelah Israel gagal mengatasi kekhawatiran AS mengenai rencana serangannya di Rafah. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hendarmono Al Sidarto
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES