Peristiwa Internasional

All Eyes on Rafah: Apa yang Terjadi di Balik Unggahan Viral Itu?

Jumat, 31 Mei 2024 - 17:47 | 22.38k
Para mahasiswa pro-Palestina di Naples, Italia, menggelar demonstrasi dengan menggunakan kalimat
Para mahasiswa pro-Palestina di Naples, Italia, menggelar demonstrasi dengan menggunakan kalimat

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Belakangan ini di media sosial, gambar yang dibuat oleh kecerdasan buatan atau AI (Artificial Intelligence), yang menampilkan tenda-tenda pengungsi Palestina dengan slogan 'All Eyes on Rafah' di tengah tenda tenda itu. Ini menjadi topik pembicaraan yang ramai di masyarakat.

Postingan tersebut telah disebarkan lebih dari 47 juta kali oleh pengguna Instagram, termasuk selebritas papan atas seperti Dua Lipa, Lewis Hamilton, serta Gigi dan Bella Hadid. Bintang-bintang lain yang ikut menyebarkan gambar dan slogan tersebut termasuk aktor Amerika Mark Ruffalo, aktris India Priyanka Chopra, dan aktris Suriah Kinda Alloush.

Foto dan tagline itu mendadak populer setelah serangan udara Israel dan kebakaran melanda sebuah kamp pengungsi Palestina di Kota Rafah, Gaza selatan, pada awal pekan ini.

Selain itu, Kementerian Kesehatan yang dioperasikan oleh tim Hamas melaporkan bahwa sekitar 45 orang telah meninggal dan ratusan lainnya terluka dalam peristiwa tersebut. Israel menyatakan telah menargetkan dua komandan Hamas, dan kebakaran fatal tersebut mungkin disebabkan oleh ledakan tambahan.

Serangan Israel yang mendapat kritik luas dari komunitas internasional disebut sebagai "kecelakaan tragis" oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu. Hal tersebut, menyebabkan gambar-gambar terkait menjadi viral setelah insiden itu.

Bagaimana awal mula slogan 'All Eyes on Rafah'?

Pada Jum'at (31/5/2024), TIMES Indonesia mengutip dari New York Times yang mengatakan bahwa, slogan "All Eyes on Rafah" telah tersebar lebih dari 38 juta kali di platform Instagram.

Menurut laporan dari New York Times, ungkapan tersebut diduga berasal dari Richard Peeperkorn, yang memimpin kantor Organisasi Kesehatan Dunia di wilayah Gaza dan Tepi Barat. Peeperkorn dikabarkan membuat komentar tersebut pada bulan Februari sebagai tanggapan terhadap operasi militer Israel di selatan Gaza.

Saat di markas besar PBB di Jenewa, Peeperkorn mengungkapkan kekhawatiran akan "bencana yang tidak terduga" yang dapat terjadi jika pasukan Israel melancarkan serangan besar-besaran terhadap kota tersebut.

Setelah beberapa bulan dari pernyataan Peeperkorn, slogan-slogan seperti 'All Eyes on Rafah' mulai tersebar luas dalam demonstrasi internasional dan di berbagai platform media sosial.

Dalam dua hari terakhir, slogan tersebut semakin viral di platform media sosial berkat gambar-gambar yang dibuat oleh kecerdasan buatan (AI). Menurut data yang dilansir oleh Instagram pada, Jum'at (31/5/2024), lebih dari 47,3 juta pengguna internet telah membagikan gambar tersebut.

Bagaimana penyebaran foto tersebut hingga Viral?

Dari berbagai sumber yang TIMES Indonesia dapat, beberapa pakar menyatakan bahwa ada faktor-faktor yang dapat menjelaskan mengapa pesan 'All Eyes on Rafah' mendadak menjadi viral.

Beberapa di antaranya mencakup karakteristik gambar yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI), kesederhanaan slogan, kemudahan bagi pengguna Instagram untuk membagikan konten hanya dengan beberapa klik, serta dukungan dari para selebritas.

Akan tetapi, menurut seorang pengajar mata kuliah pascasarjana tentang media, kampanye, dan perubahan sosial di Universitas Westminster yang bernama Anastasia Kavada, ia mengatakan bahwa faktor yang paling signifikan adalah waktu dan konteks politik dari unggahan tersebut.

Kavada menjelaskan bahwa gambar tersebut menjadi viral pada saat banyak individu merasa "mendikte" dengan kabar tentang serangan terhadap kamp pengungsi Palestina di Rafah.

AI turut serta mempercepat penyebarannya?

Menurut para pakar, kemudahan berbagi unggahan 'All Eyes on Rafah' disebabkan oleh gambar yang dibuat oleh kecerdasan buatan.

Poster yang menampilkan padang pasir dan tenda-tenda dengan tulisan ‘All Eyes on Rafah’ di atasnya, sebenarnya tidak mencerminkan Kota Rafah sebenarnya. Faktor yang paling mencolok adalah ketiadaan gambar mayat, darah, potret orang sungguhan, identitas, atau lanskap yang menyedihkan. Hal tersebut yang menyebabkan menimbulkan kritik dari beberapa orang.

Menurut Dr. Paul Reilly, seorang dosen senior di Universitas Glasgow yang mengkaji Komunikasi, Media, dan Demokrasi, sebagian aktivis mungkin merasa prihatin bahwa gambar tersebut tidak mencerminkan keadaan sesungguhnya di lapangan. Ia menyinggung materi lain yang diunggah di media sosial oleh beberapa jurnalis di Gaza, meskipun tidak mendapatkan popularitas sebesar unggahan ‘All Eyes on Rafah’.

Walaupun gambar tersebut menampilkan interpretasi yang sedikit disaring dari situasi di Rafah, Dr. Reilly menegaskan bahwa perspektif itu bisa menjadi aset bagi para aktivis digital.

Karena menurutnya, gambar tersebut menjadi lebih mudah disebarkan dan tidak melanggar aturan penggunaan Instagram, sehingga tidak dihapus oleh platform media sosial tersebut.

Dalam respons kritik tersebut, seniman asal Malaysia yang dikenal sebagai shahv4012 yang diketahui sebagai pembuat gambar tersebut, menyatakan dalam sebuah cerita di Instagram miliknya.

"Ada yang merasa tidak puas dengan gambar dan template ini, saya meminta maaf jika telah membuat kesalahan kepada kalian semua," jelasnya.

“Apa pun (yang Anda lakukan), jangan meremehkan masalah Rafah sekarang, sebarkan agar mereka terguncang dan takut akan penyebaran dari kita semua," lanjutnya.

Bagaimana cara kerja penyebaran kampanye tersebut?

Perlu diketahui, berbagai fitur yang ditawarkan oleh platform Instagram juga punya peran dalam meningkatkan popularitas postingan tersebut.

Ketika "shahv4012" memposting foto tersebut, ia memanfaatkan opsi "Add Yours" yang diperkenalkan oleh Instagram pada tahun 2021, fitur tersebut memungkinkan pengguna lain untuk dengan mudah berbagi kembali gambar yang sama.

Menurut seorang ahli konsultan dalam pemasaran digital dan kecerdasan buatan bernama Maher Nammari, pemanfaatan fitur ini dianggap sebagai inovasi terbaru dalam strategi kampanye politik atau sosial.

“Dalam kebanyakan kasus, siapa pun yang mulai menggunakan fitur ini untuk alasan politik punya tujuan untuk berkontribusi dalam meluncurkan kampanye berskala besar. Karena [postingan] semacam itu punya efek bola salju," ujarnya.

Tren yang Mengkhawatirkan?

Tren tersebut banyak menuai kontroversi dikalangna warganet, terkhusus di aplikasi "X", misalnya ada warganet yang mengatakan, "Ilustrasi AI 'All Eyes on Rafah' yang viral menenggelamkan gambaran nyata kekejaman yang membuat banyak orang kehilangan nyawa mereka. Itu semua karena platform sekarang lebih menyukai AI yang 'bersih' daripada kenyataan."

Setuju dengan pendapat tersebut, seorang pengguna internet menulis, "Gambar AI Rafah adalah salah satu tanda yang sangat negatif. Contoh yang viral di Vietnam adalah seorang anak yang terbakar karena napalm, yang menimbulkan kemarahan besar dan protes luas. Kami memiliki ribuan gambar mengerikan dari Palestina. Kami tidak memerlukan gambar AI itu."

Menanggapi hal tersebut, seorang peneliti senior dan advokat hak digital untuk Human Rights Watch bernama Deborah Brown, menyampaikan kekhawatiran terhadap penyebaran luas foto AI Rafah. Menurutnya, situasi ini menunjukkan betapa kuatnya daya tarik "foto palsu" jika dibandingkan dengan gambar asli dari konflik di Rafah.

"Orang-orang mengunggah konten yang sangat gamblang dan meresahkan untuk meningkatkan kesadaran dan konten tersebut disensor, sementara media sintetik jadi viral, itu meresahkan," katanya pada Los Angeles Times, dikutip TIMES Indonesia dari NY Post, Jumat (31/5/2024).

Muncul Gerakan tandingan ‘All Eyes on Rafah’? 

Kampanye tandingan dengan skala lebih kecil telah diluncurkan di media sosial sebagai tanggapan atas slogan ‘All Eyes on Rafah’.

Sebuah gambar, yang juga dibuat menggunakan AI, menampilkan kata-kata: "Di mana matamu pada tanggal 7 Oktober?". Kalimat itu mengacu pada serangan Hamas di Israel selatan yang menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 252 orang lainnya.

Dari penelusuran TIMES Indonesia, foto tersebut diciptakan oleh pengguna Instagram asal Israel dengan nama Benjamin Jamon, yang foto itu menunjukkan seorang pria bersenjata berdiri di depan seorang bayi yang ditahan di Gaza.

Foto tersebut tersebar sekitar lima ratus ribu kali. Namun, menurut informasi yang dimuat dalam media Israel, beberapa akun menghapus gambar tersebut, sementara akun Instagram milik Jamon diblokir. 

Baru-baru ini, unggahan tersebut kembali muncul setelah sebelumnya dihapus. Meta, sebagai perusahaan yang memiliki Instagram, menyatakan bahwa gambar tersebut tidak melanggar kebijakan mereka dan sedang berusaha memahami masalah teknis yang menyebabkan penghapusan gambar tersebut. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES