Peristiwa Internasional

Dari Kotak Kayu hingga Tanah Suci, Perjalanan Haji Seorang Tukang Parkir

Selasa, 11 Juni 2024 - 19:18 | 9.08k
Jemaah haji Indonesia, Salamun, saat ditemui tim MCH. (Foto: MCH 2024 Kemenag RI)
Jemaah haji Indonesia, Salamun, saat ditemui tim MCH. (Foto: MCH 2024 Kemenag RI)

TIMESINDONESIA, MAKKAH – Salamun ingat betul bagaimana ia memesan sebuah kotak kecil kepada seorang tukang kayu pada tahun 2011 lalu. Ketika ditanya oleh sang tukang kayu tentang kegunaan kotak tersebut, Salamun hanya menjawab singkat, "Nanti juga bakal tahu," kenangnya, Sabtu, 8 Juni 2024.

Setelah kotak itu selesai dibuat, ia membawanya pulang. Setiap hari, ia memasukkan lembaran rupiah ke dalam kotak tersebut melalui lubang pipih di bagian atas. 

"Jadi saya ini nyelengi (nabung). Saya buat haji. Entah kenapa saat itu tiba-tiba muncul keinginan untuk haji," ujar tukang parkir di salah satu toko gerabah di Kecamatan Peterongan, Jombang ini.

Salamun, seorang pria berusia 65 tahun, setiap hari menabung minimal Rp10 ribu. Kadang-kadang, saat ada rezeki lebih, ia bisa menabung hingga Rp50 ribu. Tidak pernah terlintas di pikirannya untuk menggunakan uang itu untuk keperluan lain. Dia sadar bahwa mengumpulkan biaya haji bukanlah hal yang mudah.

Tidak hanya menabung, Salamun juga rutin melaksanakan salat Tahajud. Setiap kali bertemu dengan ulama, ia selalu meminta doa dan petunjuk. Seorang ulama memberikan pesan khusus kepadanya.

"Beliau meminta setiap salat tahajud, saya wiridan dan istighfar 100 kali. Selawatnya 200 kali, terus mendoakan Nabi Ibrahim, Nabi Ismail, dan Siti Hajar. Itu rutin setiap hari," ujarnya.

Setelah lima tahun menabung, Salamun membongkar celengannya. Ia tak menyangka tabungannya terkumpul Rp25 juta. Segera, saat itu juga, ia meminta sang anak mendaftarkannya untuk haji ke salah satu bank. 

Mulanya, sang anak tidak percaya bahwa Salamun punya uang sebanyak itu. Wajar, karena ia mengaku tidak pernah bercerita kepada anak dan istrinya tentang tabungan tersebut.

Menurut hitungan Salamun, tabungan Rp25 juta nyaris tidak mungkin terkumpul dalam lima tahun, mengingat pendapatannya yang tidak menentu.

"Tapi ini semua karena Allah," katanya dengan penuh syukur.

Setelah mendaftar haji, Salamun kembali mengisi tabungannya untuk melunasi biaya haji. Ia nyaris tidak pernah mengambil libur kerja. Sebagai tulang punggung utama keluarga, Salamun sadar bahwa ia tidak bisa hanya mengandalkan pendapatan dari istrinya yang hanya seorang pedagang kecil. 

"Paling banyak sehari dapat Rp100 ribu dari markir. Saya pokoknya markir ini agak non stop. Saya mulai markir jam 9 sampai Maghrib. Istirahat kalau untuk salat saja," kata Salamun.

Yang luar biasa dari Salamun adalah, ia tidak hanya menyisihkan hasil keringatnya untuk biaya haji. Ia juga menyediakan kotak tabungan lain untuk biaya pendidikan. Hasilnya sangat mengagumkan. Meski hanya berprofesi sebagai tukang parkir, ia mampu menyekolahkan lima anaknya hingga lulus sarjana. 

"Semua anak saya Alhamdulillah sarjana," ujarnya bangga.

Setelah menanti 13 tahun, panggilan itu akhirnya datang di tahun 2024. Ia merasa haru bukan kepalang. Salamun berkali-kali tercekat saat ditanya tentang perasaannya bisa sampai ke Tanah Suci. Yang paling membuatnya bahagia adalah ia bisa menyusuri jalan yang pernah dilalui Nabi Ibrahim, sosok yang ia doakan setiap sepertiga malam.

"Ya saya bersyukur gak nyangka bisa ke sini. Di depan Ka'bah saya tidak minta apa-apa. Saya minta anak saya bisa seperti saya, bisa nyampe sini," ujarnya sambil mengusap air mata. 

Ia diam lama, terlihat begitu terharu dan penuh rasa syukur. Perjuangan, kesabaran, dan keyakinannya akhirnya terbayar dengan perjalanan suci yang selama ini diimpikannya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES