Membaca Peradaban (5): Oleh-Oleh Termahal Itu Tidak Pernah Masuk ke Dalam Koper
Perjalanan Fadillah Putra ke Taiwan dan Kanada berakhir dengan badai, pendaratan darurat, dan refleksi tentang kemanusiaan. Oleh-oleh paling berharga ternyata bukan barang, melainkan cara pandang.
JAKARTA – Tidak semua perjalanan berakhir sesuai rencana.
Sebagian perjalanan justru meninggalkan kesan paling mendalam ketika segala sesuatu berjalan di luar kendali. Tiket yang berubah, cuaca yang memburuk, koper yang rusak, hingga pesawat yang gagal mendarat sering kali dianggap sebagai gangguan dalam perjalanan. Namun setelah sepekan berada di Taiwan dan Kanada, saya menyadari bahwa justru di situlah pelajaran paling berharga ditemukan.
Perjalanan pulang menuju Indonesia menjadi penutup dari rangkaian pengalaman yang memperlihatkan satu hal sederhana: kemajuan sebuah bangsa memang penting, tetapi pada akhirnya yang paling menentukan adalah kualitas manusianya.
Badai yang Mengubah Segalanya
Perjalanan dari Ottawa menuju Montreal sebenarnya berjalan normal.
Saya memilih menggunakan VIA Rail, kereta antarkota yang menghubungkan dua kota besar di Kanada. Perjalanan berlangsung nyaman. Di sepanjang jendela terbentang hamparan hutan, sungai, dan kota-kota kecil yang memperlihatkan wajah Kanada di luar pusat pemerintahan.
Saya tiba di Montreal dengan satu rencana sederhana: menikmati satu malam terakhir sebelum kembali ke Indonesia.
Namun alam memiliki rencana lain.
Badai tropis yang bergerak di kawasan Pasifik mulai memengaruhi sejumlah jadwal penerbangan internasional. Informasi mengenai perubahan jadwal terus bermunculan. Sejumlah penerbangan mengalami penundaan, termasuk penerbangan yang akan saya gunakan.
Sebagai pelancong, situasi seperti itu tentu menimbulkan kegelisahan.
Sebagai akademisi kebijakan publik, saya justru melihat bagaimana sebuah sistem bekerja ketika menghadapi krisis.
Maskapai terus memperbarui informasi.
Petugas memberikan penjelasan dengan tenang.
Penumpang memperoleh kepastian mengenai langkah berikutnya.
Krisis tidak dapat dihindari.
Namun kepastian informasi membuat kepanikan tidak berkembang.
Saya kembali belajar bahwa pelayanan publik tidak diuji ketika keadaan berjalan normal.
Ia diuji ketika situasi berubah.
Bermalam di Bekas Penjara
Salah satu pengalaman yang paling unik selama perjalanan justru saya alami di Montreal.
Karena perubahan jadwal penerbangan, saya menginap di sebuah hostel yang dahulu merupakan bangunan penjara tua.
Dinding batu yang tebal.
Lorong-lorong panjang.
Pintu besi yang masih dipertahankan.
Sel-sel tahanan telah diubah menjadi kamar penginapan.
Bangunan itu seolah menyimpan sejarah yang panjang.
Saya membayangkan, puluhan tahun lalu tempat tersebut menjadi simbol hukuman.
Kini bangunan yang sama berubah menjadi ruang perjumpaan wisatawan dari berbagai negara.
Transformasi itu mengingatkan saya bahwa pembangunan bukan hanya membangun sesuatu yang baru.
Pembangunan juga berarti memberi makna baru terhadap sesuatu yang lama.
Kota-kota besar di dunia tidak selalu menghapus jejak sejarahnya.
Mereka justru merawatnya agar menjadi bagian dari identitas.
Menunggu Bersama Orang-Orang Asing
Bandara internasional selalu menjadi tempat yang menarik.
Di sana orang-orang datang dari berbagai bangsa, bahasa, dan latar belakang.
Sebagian sedang pulang.
Sebagian baru memulai perjalanan.
Sebagian lain menunggu kepastian karena penerbangannya tertunda.
Saya memperhatikan bagaimana para penumpang menghadapi perubahan jadwal.
Tidak terdengar teriakan.
Tidak terlihat keributan.
Orang-orang membaca buku.
Membuka komputer.
Berbincang.
Atau sekadar menikmati secangkir kopi sambil menunggu informasi berikutnya.
Situasi tersebut membuat saya berpikir.
Kepercayaan ternyata juga hadir dalam hubungan antara masyarakat dan institusi.
Ketika masyarakat percaya bahwa sistem akan bekerja, mereka tidak mudah panik.
Sebaliknya, institusi yang terus memberikan informasi secara terbuka ikut memperkuat kepercayaan tersebut.
Kepercayaan kembali menjadi fondasi.
Ketika Pesawat Harus Mendarat Darurat
Perjalanan pulang menggunakan Philippine Airlines semula berlangsung lancar.
Pesawat telah mengudara cukup lama ketika awak kabin menyampaikan pengumuman yang mengubah suasana.
Karena alasan teknis, pesawat harus melakukan pendaratan darurat.
Beberapa penumpang mulai saling berpandangan.
Suasana kabin berubah sunyi.
Tidak ada yang mengetahui apa yang akan terjadi beberapa menit berikutnya.
Dalam situasi seperti itu, saya memperhatikan para awak kabin.
Tidak ada kepanikan di wajah mereka.
Instruksi disampaikan dengan jelas.
Nada bicara tetap tenang.
Mereka berulang kali memastikan seluruh penumpang memahami prosedur keselamatan.
Di tengah situasi yang tidak pasti, ketenangan ternyata dapat menular.
Ketika kru tetap tenang, penumpang pun lebih mudah mengendalikan rasa cemas.
Pesawat akhirnya berhasil mendarat dengan selamat.
Sesaat setelah roda menyentuh landasan, terdengar tepuk tangan panjang dari hampir seluruh penumpang.
Tepuk tangan itu bukan sekadar ungkapan lega.
Ia adalah bentuk penghargaan kepada orang-orang yang tetap menjalankan tugasnya secara profesional ketika situasi berubah menjadi krisis.
"You Guys Saved Lives"
Setelah seluruh penumpang turun, beberapa orang menghampiri awak kabin.
Seorang ibu paruh baya yang duduk tidak jauh dari saya mengucapkan kalimat yang sangat sederhana.
"You guys saved lives."
Saya melihat beberapa awak kabin tersenyum.
Ada pula yang tampak menahan haru.
Kalimat tersebut mungkin hanya terdiri dari empat kata.
Namun maknanya jauh melampaui ucapan terima kasih.
Ia mengingatkan bahwa di balik setiap sistem, prosedur, dan teknologi, selalu ada manusia yang menjalankannya.
Kita sering mengukur kualitas pelayanan dari kecepatan atau efisiensi.
Padahal dalam situasi genting, yang paling diingat orang justru adalah sikap manusia yang melayani.
Empati.
Ketenangan.
Profesionalisme.
Pelajaran yang Tidak Saya Temukan di Ruang Konferensi
Selama berada di Kanada saya mengikuti berbagai sesi ilmiah mengenai kebijakan publik.
Saya mendengarkan banyak presentasi.
Berdiskusi dengan akademisi dari berbagai negara.
Bertukar gagasan mengenai masa depan tata kelola pemerintahan.
Semua itu memperkaya cara pandang saya sebagai peneliti.
Namun ketika perjalanan berakhir, saya justru lebih sering mengingat pengalaman-pengalaman kecil di luar ruang konferensi.
Tentang petugas maskapai yang meminta maaf sebelum saya mengeluh.
Tentang resepsionis hotel yang membantu mencari paspor saya.
Tentang mahasiswi yang membuka pintu stasiun tanpa mengenal saya.
Tentang perempuan yang berjalan sendirian di tengah malam di Taipei.
Tentang awak kabin yang tetap tersenyum ketika pesawat harus mendarat darurat.
Mereka semua tidak sedang berbicara tentang teori kebijakan publik.
Mereka sedang memperlihatkan bagaimana kebijakan hidup dalam perilaku manusia.
Membawa Pulang Cara Pandang
Perjalanan tujuh hari ini pada akhirnya mengubah cara saya membaca sebuah negara.
Selama ini kita sering menilai kemajuan bangsa melalui angka-angka.
Pertumbuhan ekonomi.
Produk domestik bruto.
Investasi.
Infrastruktur.
Indeks daya saing.
Semua indikator itu memang penting.
Namun ada satu indikator lain yang sering luput dari perhatian.
Apakah masyarakatnya saling percaya?
Apakah institusinya dipercaya?
Apakah orang asing merasa aman meminta pertolongan?
Apakah petugas merasa bertanggung jawab menyelesaikan masalah?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang terus saya bawa pulang ke Indonesia.
Taipei mengajarkan bahwa kepercayaan dapat dibangun melalui sistem.
Kanada memperlihatkan bahwa kepercayaan tumbuh dalam perilaku masyarakat.
Ottawa menunjukkan bahwa konsistensi kebijakan melahirkan peradaban.
Sementara ruang-ruang akademik mengingatkan bahwa Indonesia harus lebih percaya kepada pengetahuannya sendiri.
Oleh-Oleh Paling Berharga
Ketika pesawat akhirnya membawa saya kembali ke Indonesia, koper saya memang berisi beberapa suvenir.
Ada cokelat.
Ada buku.
Ada cendera mata kecil yang akan saya berikan kepada keluarga dan kolega.
Namun saya menyadari bahwa oleh-oleh paling berharga dari perjalanan ini tidak berada di dalam koper.
Yang saya bawa pulang adalah cara pandang baru.
Saya belajar bahwa kebijakan publik terbaik bukanlah yang paling sering dipuji, melainkan yang paling mampu membuat masyarakat merasa aman, dihargai, dan dipercaya.
Saya belajar bahwa pembangunan tidak berhenti pada jalan raya, gedung tinggi, atau teknologi digital. Pembangunan sejatinya adalah proses panjang membentuk budaya, karakter, dan kepercayaan sosial.
Dan saya belajar bahwa perjalanan bukanlah sekadar berpindah dari satu negara ke negara lain.
Perjalanan adalah kesempatan membaca peradaban melalui manusia-manusia yang kita temui di sepanjang jalan.
Mungkin itulah sebabnya setiap perjalanan selalu memiliki dua tujuan.
Tujuan pertama adalah tempat yang ingin kita datangi.
Tujuan kedua adalah diri kita sendiri.
Saya berangkat dari Indonesia sebagai seorang akademisi yang ingin menghadiri konferensi internasional.
Saya pulang dengan keyakinan bahwa pelajaran paling penting ternyata tidak saya temukan di ruang sidang, melainkan di jalanan Taipei, di stasiun Ottawa, di loket Lost and Found, di sebuah hostel bekas penjara, dan di dalam kabin pesawat yang mendarat darurat.
Di sanalah saya menemukan bahwa peradaban sesungguhnya dibangun bukan hanya oleh negara atau pemerintah.
Peradaban dibangun oleh manusia-manusia yang, dalam keadaan apa pun, tetap memilih untuk saling percaya, saling membantu, dan saling menjaga.
Dan barangkali, itulah oleh-oleh yang nilainya paling mahal.
Karena ia tidak pernah bisa dimasukkan ke dalam koper.
TAMAT
FEATURE BERSAMBUNG | MEMBACA PERADABAN DARI SEBUAH PERJALANAN (5)
Oleh: Fadillah Putra, MPAff., Ph.D.
Pakar Kebijakan Publik Universitas Brawijaya
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

