Membaca Peradaban dari Sebuah Perjalanan
Catatan Perjalanan Fadillah Putra, MPAff., Ph.D., Pakar Kebijakan Publik Universitas Brawijaya
JAKARTA – Sebuah perjalanan tidak selalu dimulai dari keinginan untuk berwisata. Ada kalanya perjalanan berangkat dari ruang akademik, tetapi berakhir dengan pemahaman baru tentang manusia, masyarakat, dan cara sebuah bangsa membangun peradabannya.
Selama 7–13 Juli 2026, Fadillah Putra, MPAff., Ph.D., Pakar Kebijakan Publik Universitas Brawijaya, melakukan perjalanan ke Taiwan dan Kanada untuk mengikuti International Workshop on Public Policy (IWPP5) di Carleton University, Ottawa. Agenda utama perjalanan tersebut adalah menghadiri forum ilmiah internasional yang mempertemukan para akademisi dan peneliti kebijakan publik dari berbagai negara.
Namun, pelajaran paling berharga justru tidak selalu ditemukan di ruang konferensi.
Ia hadir di trotoar Kota Taipei yang tetap ramai oleh pejalan kaki hingga tengah malam, di hotel kecil yang beroperasi hampir tanpa resepsionis, pada petugas maskapai yang mengganti koper rusak tanpa birokrasi berbelit, pada seorang mahasiswi yang spontan membantu orang asing di stasiun kereta, hingga pada awak kabin yang tetap tenang ketika pesawat harus melakukan pendaratan darurat.
Melalui pengalaman-pengalaman sederhana itu, perjalanan ini menghadirkan refleksi mengenai makna kepercayaan sosial, kualitas pelayanan publik, konsistensi kebijakan, serta pentingnya membangun budaya yang menghargai pengetahuan.
Serial feature ini bukan catatan wisata. Bukan pula laporan perjalanan akademik semata. Setiap seri mengajak pembaca melihat bagaimana keputusan-keputusan kebijakan yang tampak sederhana mampu membentuk perilaku masyarakat, memperkuat institusi, dan pada akhirnya melahirkan peradaban yang dipercaya warganya.
Di balik setiap kota yang dikunjungi, terdapat pertanyaan yang terus menyertai perjalanan ini:
Apa yang sebenarnya membuat sebuah bangsa mampu membangun kepercayaan?
Pertanyaan tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan lima seri tulisan ini. Dari Taipei hingga Ottawa, dari ruang konferensi hingga ruang publik, setiap pengalaman menawarkan sudut pandang baru tentang bagaimana kebijakan tidak hanya hidup dalam regulasi, tetapi juga tercermin dalam kebiasaan, sikap, dan tindakan sehari-hari masyarakat.
Selamat mengikuti perjalanan ini.
Daftar Seri
Membaca Peradaban (1)
Ketika Kepercayaan Menjadi Infrastruktur Sebuah Kota Taipei
Membaca Taiwan melalui pelayanan publik, hotel tanpa resepsionis, budaya mandiri, dan rasa aman yang lahir dari tingginya kepercayaan sosial.
Membaca Peradaban (2):
Ketika Orang Asing Memilih Menolong
Koper rusak, paspor hilang, dan bantuan dari orang-orang yang tak saling mengenal menjadi cermin budaya pelayanan yang dibangun di atas empati.
Membaca Peradaban (3):
Kota Ottawa yang Mengajarkan Cara Membangun Peradaban
Menyusuri ibu kota Kanada untuk memahami bagaimana konsistensi kebijakan selama puluhan tahun membentuk ruang publik, transportasi, dan kualitas hidup masyarakat.
Membaca Peradaban (4):
Ketika Sebuah Bangsa Harus Percaya pada Pengetahuannya Sendiri
Refleksi dari International Workshop on Public Policy (IWPP5) tentang posisi Indonesia dalam percaturan ilmu pengetahuan dunia dan pentingnya menjadikan pengalaman Indonesia sebagai sumber gagasan global.
Membaca Peradaban (5):
Oleh-Oleh Termahal Itu Tidak Pernah Masuk ke Dalam Koper
Penutup perjalanan yang menghadirkan pelajaran tentang kemanusiaan, profesionalisme, dan makna sejati sebuah perjalanan yang mengubah cara pandang.
Ikuti feature bersambung ini setiap hari, hanya di TIMES Indonesia.
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu!
Klik 👉 Channel TIMES Indonesia
Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.

