Kriminalisasi Narasumber, Roy Thaniago: Serangan terhadap Pers dan Demokrasi

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Direktur Remotivi, Roy Thaniago menilai, upaya kriminalisasi narasumber merupakan serangan bagi pers dan demokrasi. Hal itu ia sampaikan dalam diskusi bertajuk "Ancaman Kriminalisasi Narasumber dalam Berita" di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (4/12/2018).
Ia menyebut, narasumber dalam sebuah pemberitaan adalah bahan baku. Dimana pers tidak akan mampu bekerja tanpa bahan baku tersebut.
Advertisement
"Nah jadi pelaporan dari kriminalisasi atas narasumber adalah serangan terhadap pers dan demokrasi," ujar Roy.
Wartawan lanjut dia, bekerja untuk publik. Wartawan menyajikan informasi bagi masyarakat sehingga nantinya ketika masyarakat merasa cukup akan informasi, mereka akan merasa demokrasi.
Seharusnya kata Roy, narasumber yang notabenenya bagian dari pers harus dilindungi. Apalagi ujarnya, bukan hanya masalah pers tapi ini luas lagi karena mencakup kebebasan berpendapat.
Dalam kesempatan yang sama, Direktur Eksekutif Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers), Ade Wahyudin mengatakan, bahwa fenomena kriminalisasi narasumber dapat merusak kebebasan pers.
Hal itu, dikarenakan narasumber akan takut untuk memberikan pernyataan atau informasi kepada media.
Sehingga nantinya tambahnya, juga berimbas kepada masyarakat. Dimana hak publik untuk mendapatkan informasi akan terhalang atau bahkan hilang.
"Karena narasumber sudah melakukan sensor mandiri pada pernyataannya, sehingga publik tak punya lagi referensi informasi yang kuat," tandas Ade. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Yatimul Ainun |
Publisher | : Sholihin Nur |
Sumber | : TIMES Jakarta |