Peristiwa Nasional Muktamar 48 Muhammadiyah

Ahmad Basarah: Prof Haedar Nashir Pemimpin Umat yang Sejuk dan Mengayomi Bangsa

Minggu, 20 November 2022 - 18:51 | 24.17k
Ahmad Basarah: Prof Haedar Nashir Pemimpin Umat yang Sejuk dan Mengayomi Bangsa
Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Dr Haedar Nashir. (FOTO: dok. TIMES Indonesia)
FOKUS

Muktamar 48 Muhammadiyah

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Wakil Ketua MPR RI Ahmad Basarah yang juga Ketua DPP PDI Perjuangan menyampaikan ucapan selamat kepada Prof Dr Haedar Nashir atas amanah Muktamar ke-48 Muhammadiyah yang memilihnya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah periode kedua masa khidmat 2022 - 2027.

Ia berpendapat Prof Haedar Nashir telah menujukkan ketokohannya sebagai pemimpin umat yang sejuk dan mengayomi bangsa selama memimpin Muhammadiyah. 

‘’Saya menyambut baik dan penuh optimisme atas terpilihnya kembali Prof Haedar Nashir dan Prof Abdul Mu’ti, yang selama ini selalu menampilkan Islam moderat yang sangat menyejukkan dan mengayomi generasi bangsa. Moderasi yang mereka tampilkan tidak saja diperlukan oleh organisasi sebesar Muhammadiyah, tapi juga oleh bangsa dan negara,’’ kata Ahmad Basarah merespon terpilihnya kembali Prof Haedar Nashir dan Prof Abdul Mu’ti dalam Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Solo, Jawa Tengah, Minggu (20/11/22) dinihari. 

Ketua Fraksi PDI Perjuangan ini menyampaikan ucapan selamat, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir meraih suara terbanyak dalam pemilihan 13 anggota PP Muhammadiyah masa jabatan 2022-2027 dalam sidang pemilihan anggota PP Muhammadiyah di Edutorium Universitas Muhamamadiyah Surakarta, Minggu dini hari. Haedar Nashir meraih 2.203 suara, disusul Abdul Mu’ti yang memperoleh 2.159 suara. 

Menurut Ahmad Basarah, Prof. Haedar Nashir dan para pengurus terpilih Muhammadiyah periode 2022 – 2027 yang dipilih 2.519 peserta muktamar dan pemilih e-voting adalah tokoh-tokoh nasional yang selama ini banyak berkhidmat pada bangsa dan negara di bidang masing-masing. Karena Muhammadiyah merupakan salah satu organisasi besar di tanah air, ia menilai mereka yang diberi amanah oleh 32.747 suara pemilih yang masuk adalah tokoh-tokoh nasional yang layak diteladani. 

‘’Sebagian besar tokoh-tokoh yang terpilih itu adalah orang-orang yang selama ini dikenal menyampaikan tulisan atau ceramah tentang moderasi beragama atau sikap-sikap moderat dalam beragama lainnya. Masyarakat Indonesia yang mayoritas Muslim datang dari berbagai mazhab dan aliran. Mereka tentu membutuhkan para pemimpin ormas yang menyejukkan dan mempersatukan bangsa di tengah kebhinekaan,’’ kata Ketua Fraksi PDI Perjuangan itu. 

Sekretaris Dewan Penasihat PP Baitul Muslimin Indonesia itu berharap, sebagai organisasi masyarakat yang berusia lebih tua dari Republik Indonesia, Muhammadiyah hendaknya terus menampilkan diri sebagai organisasi yang selama ini diharapkan dan dibangga-banggakan oleh proklamator Indonesia, Ir Soekarno atau Bung Karno. Ahmad Basarah mengaku optimis sebab sejauh yang ia baca dari media, Prof Haedar Nashir kerap berbicara tentang kedekatan Bung Karno dengan organisasi yang kini dipimpinnya.

‘’Bung Karno melihat pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan adalah sosok revolusioner yang layak dicontoh. Demikian dekat Bung Karno dengan Muhammadiyah, sampai-sampai beliau pada Muktamar Muhammadiyah tahun 1962 pernah berwasiat agar ketika beliau wafat kerandanya diselimuti oleh panji-panji Muhammadiyah. Sejarah tentang Bung Karno dan Muhammadiyah ini sangat dikenal oleh Prof Haedar dan pimpinan Muhammadiyah lainnya,’’  kata Ahmad Basarah, yang pernah menulis buku ‘’Bung Karno, Islam dan Pancasila’’ itu.

Ahmad Basarah menambahkan, Fatmawati yang dipersunting Bung Karno adalah seorang kader Aisyiyah, gerakan perempuan Muhammadiyah. Pasca kemerdekaan, sejarah mencatat Fatmawati menjadi ibu negara dan tercatat sebagai penjahit sang saka merah putih. 

‘’Bung Karno tertarik pada Muhammadiyah sejak beliau masih kecil.  Saat menimba ilmu di rumah HOS Cokroaminoto, Bung Karno sudah tertarik pada banyak pemikiran KH Ahmad Dahlan yang mengusung Islam berkemajuan dan sikap-sikap moderat. Karena itulah Bung Karno menjadi kader Muhammadiyah sejak 1938, bahkan pernah menjadi pengurus di Majelis Pendidikan Muhammadiyah di Bengkulu,’’ jelas Ahmad Basarah.

Sebagai Wakil Ketua Lakpesdam PBNU, Ahmad Basarah mengajak PP Muhammadiyah dan ormas-ormas Islam lainnya di Indonesia untuk terus menghadirkan Islam khas Indonesia yang lembut dan penuh rahmatan lil-alamin. Dengan demikian, negara ini akan menjadi contoh sekaligus menjadi laboratorium riset terbesar para akademisi dunia yang melakukan riset tentang Islam yang mempersatukan bangsa-bangsa dunia. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

KOPI TIMES