Peristiwa Nasional

Tujuh Jam di Atas Awan: Kesendirian di Tengah Keramaian Natal

Senin, 25 Desember 2023 - 17:51 | 87.88k
Ge Recta Geson, Founder AMRO Institute, Pakar Probiotik Indonesia, saat berada di pesawat dalam perjalanan ke Osaka, Jepang, (25/12/2023). (Foto: Dok Pribadi)
Ge Recta Geson, Founder AMRO Institute, Pakar Probiotik Indonesia, saat berada di pesawat dalam perjalanan ke Osaka, Jepang, (25/12/2023). (Foto: Dok Pribadi)

TIMESINDONESIA, HONGKONG – Di tengah lampu dan suara meriah yang menghiasi jalanan saat Natal, ada sebuah kebiasaan yang sering terlewatkan: banyak di antara kita yang merayakannya dalam kesendirian.

Ini bukan kesendirian yang menyedihkan. Tapi sebuah kesempatan untuk introspeksi, kontemplasi, dan pemahaman diri yang lebih dalam. Sebuah momen langka di tengah hiruk pikuk kehidupan.

Setidaknya ini yang saya rasakan pada Natal 2023 (25/12/2023) kali ini. Di atas langit 37.000 kaki dari bumi bersama Cathay Pacific, tepat pada Hari Natal ini saya terbang dari Indonesia ke Jepang.

Sempat transit sebentar di Hongkong, sebelum melanjutkan perjalanan ke Osaka, Jepang. Total perjalanan ini selama 7 jam di udara.

Betul-betul seperti sendiri. Hanya deru mesin pesawat dan awan yang menemani sepanjang perjalanan.

Begitulah. Natal kali ini, yang bagi banyak orang merupakan waktu untuk berkumpul, harus saya lalui di atas pesawat.

Dan Natal kali ini pula telah menjadi saat ketika kesendirian tidak hanya menjadi pilihan, tetapi sebuah kebutuhan. Ini adalah waktu ketika manusia bisa melangkah mundur dari keramaian dan merenung tentang perjalanan selama setahun terakhir.

Memaknai Kesendirian dalam Keramaian

Seperti kata filosof Albert Camus, "In order to understand the world, one has to turn away from it on occasion." Natal memberikan kesempatan tersebut: untuk memalingkan diri sejenak dari dunia dan masuk ke dalam ruang hati kita.

Mengapa kesendirian ini penting, terutama saat Natal? Dalam kesunyian, mudah menemukan ruang untuk mendengar bisikan hati yang sering tenggelam oleh kebisingan dunia. Ini adalah waktu untuk mempertanyakan, merenungkan, dan akhirnya mengerti.

Di dalamnya, bisa merenungkan arti dari kasih yang begitu ditekankan dalam perayaan Natal. Menggali lebih dalam apa artinya bagi kita, dan bagaimana kita telah (atau belum) menghidupinya.

Kesendirian di tengah keramaian Natal juga mengajarkan tentang penerimaan. Di saat berhenti sejenak, belajar menerima diri sendiri apa adanya, lengkap dengan kelebihan dan kekurangan.

Kesendirian ini memberikan keberanian untuk menghadapi realita kehidupan. Menerima kegagalan dan keberhasilan. Atau berdamai dengan keduanya. Seperti yang dikatakan oleh teolog kontemporer Richard Rohr, "The best way to take care the future, is take care the present moments."

Kesendirian ini juga memungkinkan untuk merasakan kebersamaan dalam cara yang berbeda. Saat merenung dalam kesendirian, manusia menjadi lebih sadar akan koneksi dengan orang lain. Bahkan ketika mereka tidak secara fisik bersama.

Kita menyadari bahwa kebersamaan bukan hanya tentang pertemuan fisik. Tetapi juga tentang persatuan batin, tentang berbagi cinta dan kasih sayang dalam diam.

Natal, dengan semua simbolisme dan tradisinya, mengajak untuk menemukan cahaya dalam diri sendiri. Cahaya ini tidak datang dari luar, melainkan dari dalam. Dari keberanian untuk menghadapi dan memeluk kesendirian itu sendiri.

Ini adalah cahaya yang tidak padam ketika pesta berakhir dan tamu-tamu telah pulang. Cahaya yang tetap bersinar, memberi kita kekuatan dan harapan.

Hilang dalam Terang

Kesendirian di tengah keramaian Natal adalah bukan tentang isolasi, melainkan tentang menemukan kekuatan dalam diam dan ketenangan. Ini tentang memanfaatkan kesempatan yang diberikan oleh keramaian untuk menemukan kedamaian dan kejernihan. Untuk menyelaraskan kembali diri kita dengan nilai-nilai yang dipegang, dan untuk merayakan kehidupan dengan cara yang paling autentik dan bermakna bagi.

Maka, di tengah keramaian Natal ini, marilah kita merenung. Marilah kita menemukan kesendirian yang membebaskan dan menginspirasi, yang memungkinkan kita untuk melihat lebih jelas, mencintai lebih dalam, dan hidup lebih penuh.

Bahwa dalam kesendirian ini, kita mungkin menemukan keajaiban Natal yang sebenarnya: kemampuan untuk merayakan, mencintai, dan menjadi cahaya bagi dunia, tidak hanya selama musim perayaan, tetapi setiap hari dalam kehidupan kita.

Mari pertimbangkan bahwa kesendirian bukanlah akhir, melainkan awal dari pemahaman yang lebih dalam tentang diri dan dunia. Natal dengan segala kehangatannya, memberi kesempatan untuk merenung dan memperbaiki jalinan relasi dalam  diri sendiri dan dengan orang lain. Di tengah keramaian dan perayaan, ada sebuah undangan tersembunyi untuk menemukan kedamaian dan keheningan dalam diri, sebuah kesempatan untuk memaknai kembali apa yang kita rayakan.

Natal mengajarkan kita tentang harapan, tentang cahaya yang muncul di tengah kegelapan. Dalam kesendirian, diri ini diajak untuk menjadi saksi dari cahaya kecil itu dalam diri kita. Cahaya yang mampu menerangi jalan dan membawa kita kepada pemahaman yang lebih besar tentang kasih dan kedamaian.

Ini bukan proses yang mudah atau cepat. Melainkan perjalanan yang memerlukan kesabaran, keberanian, dan ketekunan.

Dalam kesendirian, kita juga diajak untuk merefleksikan makna dari memberi dan menerima. Natal sering kali diidentikkan dengan pemberian, namun dalam kesendirian, kita belajar bahwa memberi terbesar yang bisa kita lakukan adalah memberi waktu untuk diri sendiri, memberi ruang untuk tumbuh, dan memberi perhatian kepada apa yang benar-benar penting.

Sebaliknya, kita juga belajar menerima: menerima diri kita apa adanya, menerima hidup dengan segala kompleksitasnya, dan menerima bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar.

Bukan Melarikan Diri dari Keramaian

Dalam dunia yang terus bergerak dan berubah, Natal dan kesendirian menjadi momen yang langka dan berharga. Ini menjadi saat ketika kita bisa menghentikan sejenak laju kehidupan, menarik napas, dan menyelami kedalaman diri.

Di sini, kita tidak hanya merayakan kelahiran atau awal yang baru. Tetapi juga merayakan kesempatan untuk menjadi lebih manusiawi, lebih penuh kasih, dan lebih hidup.

Di tengah keramaian yang tak terhindarkan, kesendirian menjadi suatu bentuk perlawanan. Suatu cara untuk mengatakan bahwa di dalam diri kita ada dunia yang juga perlu dirayakan dan dipahami.

Ini bukan tentang melarikan diri dari keramaian, melainkan tentang menemukan cara untuk hidup di dalamnya dengan cara yang lebih sadar dan penuh makna.

Sebagai penutup, marilah kita mengambil kesempatan yang diberikan oleh Natal untuk merenung dalam kesendirian. Bukan untuk melarikan diri, melainkan untuk kembali dengan sesuatu yang lebih: pemahaman, kedamaian, dan cinta.

Dalam keramaian atau kesendirian, semoga kita selalu menemukan jalan kembali ke hati, tempat di mana Natal sejati terjadi. Dan di mana setiap detik menjadi perayaan kehidupan yang sesungguhnya. Selamat Hari Natal 2023. God bless! (*)
 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Khoirul Anwar
Publisher : Rifky Rezfany

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES