Peristiwa Nasional

Pilot Susi Air yang Disandera OPM Sehat, TNI Terus Lakukan Operasi Pembebasan

Senin, 05 Februari 2024 - 17:03 | 14.82k
Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak (tiga kanan) menjawab pertanyaan wartawan saat jumpa pers selepas acara perayaan Natal bersama TNI AD di Jakarta, Senin (5/2/2024). (Foto: ANTARA/Genta Tenri Mawangi)
Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal TNI Maruli Simanjuntak (tiga kanan) menjawab pertanyaan wartawan saat jumpa pers selepas acara perayaan Natal bersama TNI AD di Jakarta, Senin (5/2/2024). (Foto: ANTARA/Genta Tenri Mawangi)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal TNI Maruli Simanjuntak, mengkonfirmasi bahwa pilot Susi Air, Philip Mark Merhtens, yang disandera oleh kelompok OPM pimpinan Egianus Kogoya, saat ini berada dalam kondisi sehat. Pernyataan ini diberikan usai perayaan Natal bersama TNI AD di Jakarta pada Senin (5/2/2024).

"Informasi terakhir, pilot tersebut dalam keadaan sehat," ujar Jenderal Maruli kepada wartawan. Operasi pembebasan pilot ini menjadi fokus kerjasama antara Markas Besar TNI dan Polri.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Staf TNI AD menegaskan bahwa upaya pembebasan terus berlangsung. TNI bekerjasama dengan berbagai pihak, termasuk pemuka adat, pemuka agama, dan pemerintah daerah, untuk bernegosiasi dengan penyandera demi memastikan pembebasan Philip.

"Kita terus melakukan upaya-upaya negosiasi. Itu yang saya dengar informasinya," tambah Jenderal Maruli. Meskipun komunikasi dengan OPM diakui kurang stabil, TNI memastikan terus berusaha mencapai solusi damai.

Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) berencana membebaskan pilot Susi Air pada 7 Februari 2024, setahun setelah penahanannya dimulai. Juru Bicara TPNPB-OPM, Sebby Sambom, menegaskan bahwa pembebasan dilakukan karena keyakinan bahwa tidak ada alasan kemanusiaan untuk terus menahan Philip.

Panglima TNI, Jenderal TNI Agus Subiyanto, telah menegaskan pendekatan kombinasi lunak dan keras dalam operasi pembebasan ini. Pendekatan lunak melibatkan pembinaan teritorial dan kerja sama dengan instansi sipil di Papua, sementara pendekatan keras menjadi pilihan terakhir yang dihindari TNI sebisa mungkin.

"Kita hindari adanya letusan senjata, satu butir pun," ungkap Jenderal Agus Subiyanto, menekankan komitmen terhadap penyelesaian damai dalam menghadapi situasi ini, seperti yang diungkapkan pada Desember 2023 di Jayapura, Papua. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES