Peristiwa Nasional

Kisah Penggerebekan Gembong Teroris Doktor Azhari (1): Info Awal Gerebek Bandar Narkoba

Kamis, 08 Februari 2024 - 14:41 | 53.96k
Gembong teroris Doktor Azhari tewas dalam penggerebekan di Kota Batu (Grafis: TIMES Indonesia)
Gembong teroris Doktor Azhari tewas dalam penggerebekan di Kota Batu (Grafis: TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Cahaya matahari pagi yang hangat menyinari kota Batu, 10 November 2005. Sekitar pukul 09.00, saya mendapat telepon dari jurnalis Radar Malang di Batu.

"Pak ada perang antara polisi dan geng narkoba di Flamboyan, Batu, menunggu arahan di lapangan," ucap wartawan itu pada saya yang waktu itu menjadi Pemred Radar Malang. 

Memang awal mula info itu beredar adalah penggerebekan bandar narkoba asal Malaysia. Kabarnya mereka menggunakan sebuah rumah di Jl Flamboyan, Kota Batu, untuk meracik dan memproduksi narkoba. 

Namun, di rumah itu belakangan diketahui sebagai rumah sembunyi Dr Ashari Husen, ahli bom dan teroris paling dicari saat itu. 

Tahun 2005, Batu masih sebuah kota kecil yang terkenal dengan udara sejuknya. Jika pagi tiba, udara masih berkabut. Khas dinginnya udara pegunungan yang sejuk dan tenang. 

Pas momen hari Pahlawan itu,  sebuah operasi besar tengah berlangsung. Suasana khas perumahan Flamboyan di Kota Batu mendadak berubah menjadi arena operasi ketat. Ya, itu adalah kisah penggerebekan Doktor Azhari, buronan yang dikenal sebagai ahli bom dari jaringan Al-Qaeda.

Peristiwa besar ini pun tidak bisa disia-siakan. Naluri wartawan langsung bergerak. Meski penggerebekan narkoba, ini adalah berita besar. 

Apalagi berita penggerebekan teroris! Apalagi saat itu foto Azhari sudah disebar di mana-mana. Juga saat itu namanya teroris sudah begitu meresahkan. 

Sebagai Pemimpin Redaksi Radar Malang, saat itu saya pun terjun langsung ke lapangan. Memimpin wartawan. Merekam peristiwa dari berbagai sisi dan angle. 

Meski belum ada kamera canggih, hanya ada kamera pocket, wartawan di lapangan pun tidak patah semangat. Mereka terus bergerilya. Mencari sisi eksklusif yang belum disampaikan media lain. 

Walhasil, hanya modal kamera pocket, wartawan Radar Malang waktu itu, berhasil 'menyelundupkan' kamera pocket ke salah satu petugas forensik. 

"Nitip Bang," cerita wartawan kami yang kebetulan perawakannya mirip tentara. Belakangan diketahui kalau petugas forensik itu mau dititipi karena wartawan ini dikira komandannya. Karena mirip dengan salah satu jenderal bintang. 

Begitulah kecerdikan wartawan dulu. Banyak akal dan cara untuk mendapatkan eksklusivitas liputan. Akhirnya kami pun waktu itu mendapat foto-foto eksklusif. Juga dapat cerita eksklusif dari pelaku langsung penggerebekan; anggota tim Walet Hitam Densus 88.

Operasi dimulai saat kepolisian mendapat informasi bahwa Azhari bersembunyi di sebuah rumah kontrakan. Menggunakan teknologi canggih (kala itu) seperti GSM intersector dan GPS, serta kerja sama antara intelijen manusia dan teknis, kepolisian berhasil menentukan lokasi Azhari. 

Mereka juga menganalisis aktivitas di dalam rumah. Termasuk mengevaluasi jumlah penghuni dan aktivitasnya melalui kuantitas belanjaan mereka di pasar.

Situasi kian mendebarkan ketika Holili, salah satu rekan Azhari, terdeteksi meninggalkan rumah sambil membawa tas ransel yang diduga berisi bahan peledak dan senjata api. Holili ini adalah salah satu mahasiswa kampus di Malang. 

Polisi, yang sudah berhari-hari berjaga, panik. Mereka memutuskan untuk mengikuti setiap gerakannya. Aksi kejar-mengejar yang mendebarkan terjadi, mulai dari pusat kota hingga ke Terminal Arjosari Malang. 

Mahasiswa ini langsung naik bus. Petugas pun mengikutinya. 

Holili akhirnya berhasil ditangkap di Semarang. Saat diinterogasi, ia mengaku kalau di Batu memang Doktor Azhari. Dari pengakuan Holili inilah membawa polisi semakin dekat dengan gembong teroris tersebut. (Bersambung)

SELANJUTNYA: Kisah Penggerebekan Gembong Teroris Doktor Azhari (2): Sniper Mengintai, Arman Tertembak dan Azhari Meledakkan Diri

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Dhian Mega

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES