Peristiwa Nasional

Soal Polemik Nasab Habaib, Rais Aam PBNU: Hati-Hati Itu Pola Wahabi

Minggu, 26 Mei 2024 - 15:58 | 33.67k
Rais Aam PBNU KH Miftachul Achyar di Gresik, Minggu (26/5/2024). (Foto: PBNU for TI)
Rais Aam PBNU KH Miftachul Achyar di Gresik, Minggu (26/5/2024). (Foto: PBNU for TI)

TIMESINDONESIA, GRESIK – Rais Aam PBNU KH Miftakhul Achyar mengingatkan pentingnya menghormati dan memuliakan seseorang dalam organisasi Nahdlatul Ulama (NU) berdasarkan keilmuan, kebaikan, dan ketakwaan. Bukan nasab atau garis keturunan.

Hal itu disampaikan Kiai Mif dalam acara Haul Muassis NU yang diadakan oleh PCNU Gresik pada Minggu pagi (26/5/2024), di kediaman almarhum KH. Umar Burhan, Jl. Nyai Ageng Arem-arem, Gresik, Jatim.

Acara haul yang diadakan untuk pertama kali ini dihadiri undangan dari PCNU se-Jatim dan dzurriyah pendiri NU dari berbagai daerah seperti Jombang, Surabaya, dan Gresik.

Tokoh-tokoh penting yang hadir antara lain KH. Fahmi Amrullah Hadzik, cucu Hadratussyekh Hasyim Asy'ary; KH. Asep Saifuddin Halim, putra KH Abdul Halim Leuminding; serta putra KH. Umar Burhan sendiri sebagai tuan rumah.

Dalam kesempatan tersebut, Kiai Miftah, yang juga pengasuh PP. Miftachussunnah, Kedungtarukan Surabaya, menekankan bahwa sebuah organisasi besar seperti NU, harus selalu menjaga ketertiban dan kepatuhan terhadap komando kepemimpinan serta peraturan yang ada.

"NU itu besar, bahkan yang terbesar di dunia, tapi NU yang besar itu tidak ada artinya kalau tidak tertib atau patuh dalam kepemimpinan dan peraturan," katanya.

Menurut Kiai Miftah, ketertiban dalam berorganisasi sangat penting untuk menghindari berbagai isu dan polemik yang dapat melemahkan organisasi. Ia menyebut bahwa gangguan yang dialami NU saat ini bukanlah sesuatu yang harus dianggap sepele.

"Gangguan sudah nyata, bukan lagi dugaan, tapi jelas dialamatkan kepada NU dan bertubi-tubi. Hati-hati, itu pola Wahabi," tegas Kiai Miftah mengingatkan.

Kiai Miftah juga menyoroti polemik nasab yang belakangan ini membuat gaduh. Ia menegaskan bahwa masalah ini bukan lagi persoalan antara dzurriyah Ba'alawi dan dzurriyah Walisongo, tetapi sudah menyasar jamaah NU secara keseluruhan.

"NU itu memuliakan orang bukan karena nasab atau garis keturunan, suku, etnis, tetapi karena keilmuan, kebaikan, dan ketakwaan seseorang. Karena itu, jamaah dan pengurus NU hendaknya bijak menyikapi fenomena 'kebesaran' NU dengan mengembalikan kepada peraturan organisasi seperti AD/ART, Perkum NU, dan tertib dalam komando kepemimpinan," tambahnya.

Lebih lanjut, Kiai Miftah mengingatkan bahwa keputusan dalam organisasi sebesar NU pasti dilakukan melalui musyawarah yang lengkap antara syuriah dan tanfidziyah, serta selalu merujuk pada aturan main yang ada. Ia menegaskan pentingnya menjaga ketertiban dalam setiap aspek berorganisasi agar NU tetap kuat dan tidak mudah dipecah belah oleh berbagai isu yang tidak bertanggung jawab.

Sementara, Gus Fahmi, Ketua PCNU Jombang yang juga Dewan Pengasuh PP Tebuireng Jombang, mewakili Plt Ketua PWNU Jatim KH Abdul Hakim, menambahkan pentingnya pola berorganisasi yang merujuk pada muassis atau pendiri NU.

Ia menekankan bahwa mengurus NU seharusnya dilakukan dengan penuh rasa hormat kepada para muassis, bukan semata-mata karena posisi atau jabatan.

"Jadi, mengurus NU itu jangan karena jadi pengurus atau tidak, tapi mengurus NU itu karena takdzim kepada muassis NU. Bisa saja kita berbeda dengan pengurus NU, tapi kita jangan fokus pada orang atau oknum, tapi kepada NU dan para muassis. Kita lihat Hadratussyeikh KH Hasyim Asy'ari," katanya.

Gus Fahmi juga mengingatkan bahwa kepemimpinan dalam organisasi harus bersifat menyatukan, bukan menyeragamkan. "Kalau seragam itu tidak mungkin karena pasti ada perbedaan, tapi bagaimana menyatukan dalam kebersamaan atau kepentingan bersama," jelasnya.

Acara Haul Muassis NU ini menjadi momentum penting untuk kembali mengingatkan seluruh elemen NU agar fokus pada nilai-nilai inti yang membesarkan NU, yaitu keilmuan, kebaikan, dan ketakwaan. Dengan menjaga ketertiban dan patuh terhadap aturan serta komando kepemimpinan, NU diharapkan tetap menjadi organisasi yang kuat dan mampu menghadapi berbagai tantangan dan isu yang muncul.

Melalui acara ini, diharapkan jamaah dan pengurus NU dapat terus memperkuat komitmen mereka terhadap prinsip-prinsip organisasi yang telah diwariskan oleh para pendiri. Dengan demikian, NU dapat terus tumbuh dan berkembang menjadi organisasi yang tidak hanya besar secara jumlah, tetapi juga kuat dalam kualitas dan integritas.

Haul Muassis NU di Gresik ini tidak hanya menjadi ajang untuk mengenang jasa-jasa para pendiri, tetapi juga sebagai refleksi bersama untuk menjaga marwah dan ketertiban dalam berorganisasi, sehingga NU dapat terus menjalankan peran dan misinya dengan baik di tengah masyarakat. (*)
 

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Rifky Rezfany

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES