Politik

Pilkada Surabaya Bakal Diramaikan Sosok Petarung, Geser Nama Ahmad Dhani?

Kamis, 02 Mei 2024 - 22:07 | 21.74k
Hadi Dediansyah alias Cak Dedi menyatakan siap maju di Pilwali Surabaya, Kamis (2/5/2024).(FOTO: Lely Yuana/TIMES Indonesia)
Hadi Dediansyah alias Cak Dedi menyatakan siap maju di Pilwali Surabaya, Kamis (2/5/2024).(FOTO: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)  berlangsung pada 27 November 2024 mendatang. Setiap daerah memiliki nama-nama potensial. Begitu pula dalam Pilkada Surabaya.

Selain pasangan petahana Eri Cahyadi dan Armuji yang telah mendaftar hari ini, nama lain yang digadang bakal running adalah Anggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi (DPRD) Jawa Timur dari Fraksi Partai Gerindra, Hadi Dediansyah.

"Dinamika politik ini kan masih dinamis, semua warga Surabaya dan para pelaku politik di Surabaya tentunya masih punya kans yang sama," kata Hadi Dediansyah, Kamis (2/5/2024).

Hadi-Dediansyah.jpgAnggota Komisi E Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi (DPRD) Jawa Timur dari Fraksi Partai Gerindra, Hadi Dediansyah, Kamis (2/5/2024). (FOTO: Lely Yuana/TIMES Indonesia)

Hadi yang kerap disapa Cak Dedi ingin bukanlah sosok asing bagi warga, begitu pula di lingkaran politikus maupun pengusaha.

Dia bahkan telah memastikan diri akan ikut meramaikan bursa dan membawa sejumlah program perubahan di kota kelahirannya ini.

Kendati demikian, Cak Dedi menyadari bahwa perlu kendaraan politik untuk mencapai tujuan sebagai peserta kontestasi. Yaitu partai-partai yang memiliki kursi di DPRD Kota Surabaya.

"Melihat kaca mata yang ada, yang punya kans besar yang pertama adalah PDI Perjuangan. Kemudian yang kedua adalah Gerindra dan ketiga adalah PKB, keempat Golkar," jelasnya.

Ia tak memungkiri satu-satunya partai yang bisa berangkat dengan partai tunggal adalah PDI Perjuangan. Sementara Gerindra masih butuh koalisi atau kolaborasi dengan partai lain.

"Kalau melihat hasil Pemilu kemarin, Gerindra masih di posisi delapan kursi. Sementara partai-partai lain 4 sampai 5 kursi, ini dibutuhkan koalisi lintas partai agar muncul beberapa pasangan calon wali kota yang nanti akan ikut bertarung," jelas Wakil Ketua Gerindra Jatim itu.

Sampai saat ini, sebut Cak Dedi, Gerindra memberikan kesempatan bagi para kader potensial. 

"Bedanya Gerindra dengan partai lain kan memang semua ada beberapa partai yang melalui proses dari bawah, bottom up dari DPC kemudian naik DPD. Kalau untuk Gerindra ini agak beda, tentunya ending terakhirnya itu tetap akan kembali ke DPP. Lha, karena proses pendaftaran bisa melalui DPC, DPD dan juga bisa melalui DPP," papar Cak Dedi.

Proses ini ia sebut memang berbeda dari partai lain di mana DPP merupakan penentu akhir. Karena itulah, muncul spekulasi nama-nama kader dari Partai Gerindra. Misal seperti Ahmad Dhani yang baru saja lolos sebagai Anggota DPR RI. Ia santer dikabarkan bakal maju di Pilwali Surabaya.

Namun, akankah mereka yang namanya mampu menjebol gawang Pileg kemarin rela melepas jabatan begitu saja?

Cak Dedi menegaskan bahwa konsekuensi itu memang berat dan mahal.

"Kalau mau maju wakil atau Wali Kota Surabaya, yang merangkap jabatan di DPRD terpilih maupun yang sudah menjabat, itu konsekuensinya harus membelah diri. Saya rasa hanya orang-orang yang siap saja, artinya kalau sudah betul-betul siap, ya pasti akan melepaskan jabatannya," kata dia.

"Tetapi kan ini mahal harganya, karena baru saja terpilih, apakah siap untuk meninggalkan? Ini menjadi problem yang luar biasa, makanya saya yakin semuanya punya kans yang sama," tandasnya.

Apakah artinya Cak Dedi siap maju? Terlebih jika melihat tekadnya yang begitu besar membangun kota tanpa meninggalkan kearifan lokal, seolah menjadi angin segar bagi warga untuk tetap dapat menjaga Kota Pahlawan dalam genggaman putra daerah. 

Bahkan bila mungkin, ia juga berpikir untuk maju secara independen meskipun syarat ratusan ribu KTP harus terpenuhi.

"Kalau orang yang tidak punya kapabilitas kedekatan dengan masyarakat, saya rasa susah. Tetapi kalau tokoh yang sudah dekat dengan masyarakat, mencari 300 ribu KTP, bahkan 1 juta KTP pun bisa," kata Cak Dedi.

"Kalau KTP saya sudah over, saya banyak teman, banyak pendukung dan semuanya saya rasa pemikirannya sama ingin mengubah Surabaya. Jadi berangkat melalui partai atau independen, saya siap," katanya.

Beragam gagasan perubahan ia tawarkan. Ia mengatakan, kemajuan dan kecerdasan kota tidak bisa diterapkan secara mutlak tanpa kearifan lokal. Tanpa kolaborasi, Dedi menganggap cita-cita mewujudkan Surabaya sebagai kota cerdas dan penuh kearifan lokal hanyalah semu belaka.

"Saya agresif untuk melakukan perubahan," kata Cak Dedi yang baru pulang studi banding dari Jepang tersebut.

Untuk itu ia memastikan diri siap meramaikan bursa Calon Wali Kota Surabaya dan siap menggantikan kepemimpinan Eri Cahyadi.

"Karena kader partai itu ditempatkan di mana saja atau kapan saja, itu harus siap," ucapnya.

Dedi lalu meyakini, dirinya akan mendapat dukungan luas dari masyarakat karena ia berdarah Surabaya dan berhasil mengatasi segala persoalan kota ini menjadi lebih baik.

"Kalau saya tentunya harapan kami untuk masalah calon kepala daerah yang tahu persoalan setempat itu kan orang-orang putra daerah," tegasnya.

"Saya rasa semua pemikirannya sama ingin merubah Surabaya," sambung Hadi Dediansyah. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES