Religi TIMES Ramadan

Cerita dari Sunan Ampel dan Kerajaan Majapahit

Senin, 11 Maret 2024 - 21:12 | 20.13k
Ilustrasi - Sunan Ampel atau Raden Rahmat. (FOTO: detik)
Ilustrasi - Sunan Ampel atau Raden Rahmat. (FOTO: detik)
FOKUS

TIMES Ramadan

TIMESINDONESIA, SURABAYASunan Ampel dikenal dengan Raden Rahmat. Nama aslinya Sayid Ali Rahmatullah, ayahnya berama Syekh Ibrahim As-Samarqandi, seorang ulama asal Samarkand, Asia Tengah. Ibunya seorang putri raja Bernama Candrawulan dari Kerajaan Campa Kamboja.

Sedangkan silisilah keturunannya bersambung sampai Rasullah SAW melalui jalur Husen bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az Zahra binti Rasulullah SAW.

Raden Rahmat atau Sunan Ampel datang ke pulau Jawa bersama ayah dan saudara tuanya Ali Murtadho dan Raden Burereh yang sebelumnya tinggal di Campa. Mereka datang bersama sejumlah kerabat. Kedatangannya ke pulau Jawa diperkirakan tahun 1440 M, atas undangan Prabu Sri Kertawijaya, Raja Kerajaan Majapahit. Ini dilakukan untuk memperbaiki perilaku Masyarakat Majapahit yang konon saat itu mengalami kemunduran dan kemerosotan moral.

Kedatangan rombongan ke Majapahit juga dikarenakan adanya hubungan keluarga antara ibunya dan istri Sri Prabu Kertawijaya, Dewi Darawati yang berasal dari Campa.

Setelah beberapa lama, Raden Rahmat menikah dengan Nyai Ageng Manila, putri Tumenggung Arya Reja, Bupati Tuban yang juga cucu Arya Lembu Sura, Raja Surabaya yang muslim. Dari pernikahannya, lahir anak dan cucu yang menjadi generasi penerus dakwahnya dalam menyebarkan Islam. Begitu pula hubungan kekerabatannya dengan penguasa Surabaya, Arya Lembu Sura pada gilirannya membawa Raden Rahmat menjadi bupati, Penguasa Surabaya.

Kedudukan ini memberikan peluang baginya melakukan penyebaran Islam secara leluasa dan merintis pembangunan Kota Surabaya. Kondisi ini didukung pula dengan keberadaan Raja Majapahit, Sri Prabu Kertawijaya (1447-1451 M) sebagai Maharaja Majapahit yang menaruh perhatian besar dengan perkembangan agama Islam.

Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Ampel membangun masjid dan pesantren dan menjadikannya sebagai pusat pengkaderan mubalig yang disebar ke daerah lain di pulau Jawa. Gelar Sunan atau susuhunan yang diperuntukkan pada Raden Rahmat diberikan karena kedudukannya sebagai Raja (Bupati) Surabaya dan sebagai guru suci di dukuh Ampel yang memiliki kewenangan melakukan baiat bagi para santrinya.  

Sunan Ampel wafat pada tahun 1481 M di Demak dan dimakamkan di samping Masjid Ampel Kota Surabaya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Irfan Anshori
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES