Religi TIMES Ramadan

Abdurrauf al-Singkili: Ulama Besar Aceh Penulis Tafsir Qur’an Pertama dalam Bahasa Melayu

Kamis, 14 Maret 2024 - 04:42 | 26.22k
Makam Syaikh Abdurrauf al-Singkili di bibir pantai Selat Malaka di Gampong Syiah Kuala Banda Aceh. Makam ini sudah menjadi ikon wisata religi di Aceh (FOTO: bimcmedia)
Makam Syaikh Abdurrauf al-Singkili di bibir pantai Selat Malaka di Gampong Syiah Kuala Banda Aceh. Makam ini sudah menjadi ikon wisata religi di Aceh (FOTO: bimcmedia)
FOKUS

TIMES Ramadan

TIMESINDONESIA, MALANG – Syaikh Abdurrauf al-Singkili, seorang ulama besar yang kharismatik dan berpengaruh, menjadi salah satu tokoh sentral dalam sejarah penyebaran agama Islam di wilayah Nusantara. Dikenal sebagai figur yang produktif dan evolusioner, perjalanan keilmuannya dari Fansur hingga ke tanah Arab, serta kiprahnya di Aceh, menjadi tonggak penting dalam perkembangan agama dan pendidikan di wilayah tersebut.

Nama lengkapnya, Aminuddin Abdul Rauf bin Ali al-Jawi Tsumal Fansuri al-Singkili. Dicatat dalam kitab Tafsir Turjumun al-Mustafid, Abdurrauf al-Singkili bukan hanya seorang ulama biasa, melainkan juga seorang pemikir dan penulis yang berkontribusi besar dalam warisan intelektual Islam di Indonesia.  Lahir di Fansur (Singkil) sekitar tahun 1615, Abdurrauf Singkel, kebanyakan orang menyebutnya demikian, mengejar ilmu agama sejak usia muda, menerima pendidikan pertamanya di Singkil sebelum melanjutkan studi ke Banda Aceh.

Pada usia 27 tahun, Abdurrauf al-Singkili meninggalkan tanah airnya menuju tanah Arab untuk menuntut ilmu. Selama 19 tahun, ia menimba ilmu di berbagai kota di Jazirah Arab, termasuk di Dhuha (Doha), Yaman, Jeddah, Makkah, dan Madinah. Pengalaman belajarnya yang luas dan mendalam membuatnya menjadi salah satu ulama terkemuka pada zamannya.

Catatan yang ada, sekitar 36 guru dan ulama terkemuka mengajarinya. Diantaranya adalah Abd al-Qadir al-Mawrir, Ibrahim bin ‘Abdullah bin Jaman, Qadhi Ishaq. Namun ada dua guru utama Syaikh Abdurrauf al-Singkili: Syekh Ahmad al-Dajjani al-Qusyasyi dan Ibrahim al-Kurani serta puteranya, Muhammad Thahir. Dengan penuh dedikasi, Abdurrauf al-Singkili menyerap ilmu pengetahuan dari kedua guru tersebut.

Kembali ke Aceh pada usia 46 tahun, Abdurrauf Singkel tidak hanya menjadi ulama dan mufti, tetapi juga tokoh penting dalam pendidikan di Nusantara. Dalam perannya, hampir semua silsilah tarekat Shaṭāriyyah berpusat pada dirinya. Meskipun ditemukan silsilah tarekat Shaṭāriyyah di Jawa yang menyebut berasal dari Ahmad al-Qusyasyi, Abdurrauf al-Singkili tetap memiliki peran penting dalam menginisiasi dan memperkenalkan mereka kepada al-Qusyasyi.

Pada tahun 1661 M, setelah kembali ke Aceh, Abdurrauf al-Singkili diangkat sebagai Qāḍi Mālik al-‘Ādil, atau mufti yang bertanggung jawab atas administrasi masalah keagamaan di bawah kepemimpinan Sultanah Safiyyatuddin.

Tidak hanya aktif dalam bidang keagamaan, Abdurrauf Singkel juga dikenal sebagai seorang penulis yang produktif. Salah satu karyanya yang terkenal adalah tafsir Qur’an pertama dalam bahasa Melayu, Tafsir al-Baidhawi yang berjudul Anwar at-Tanzil Wa Asrar at-Ta'wil, yang pertama kali diterbitkan di Istanbul tahun 1884.

 Ada juga kitab ‘Umdat al Muhtajin ila Suluk Maslak al Mufridin, Lubb al Kasyf wa al Bayan li ma Yarahu al Muhtadhar bi al ‘Iyan, al Faraidh, Mir’at al Thullab, Tarjuman al Mustafid, Al Arba’in Haditsan li al Imam al Nawawiyah, Al Mawa’iz al Badi’, dan masih banyak lagi. Warisan intelektualnya yang luas mencakup bidang fiqih, tafsir, tasawuf, dan banyak lagi.

Nama Syaikh Abdurrauf al-Singkili juga diabadikan dalam sejarah pendidikan di Aceh, dengan pendirian Universitas Syiah Kuala di Banda Aceh pada tahun 1961. Nama 'Syiah Kuala' merupakan penghormatan atas kontribusi besar Abdurrauf dalam bidang pendidikan dan keilmuan di Nusantara.

Dengan peran dan kontribusinya yang tidak terbantahkan, Abdurrauf al-Singkili tetap menjadi salah satu tokoh sentral dalam sejarah Islam di Indonesia, mewariskan pengetahuan dan inspirasi bagi generasi-generasi mendatang.

Syaikh Abdurrauf al-Singkili meninggal dunia pada tahun 1693, pada usia 73 tahun. Makamnya berada di samping masjid yang ia bangun di Kuala Aceh, di desa Deyah Raya Kecamatan Kuala, sekitar 15 Km dari Banda Aceh.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES