TGH Muchsin: Ramadan, Bulan Penuh Keberkahan dan Kegembiraan

TIMESINDONESIA, LOMBOK UTARA – Dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1446 hijriah, umat Islam harus mempersiapkan diri secara lahir maupun batin untuk melaksanakan puasa selama sebulan penuh.
"Mempersiapkan diri secara lahir dan batin, menjadi hal penting sebagai pengingat sekaligus motivasi dalam melaksanakan puasa di bulan Ramadan," ujarnya Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hikmah Pemenang, Kabupaten Lombok Utara (KLU), Dr. TGH. Lalu Muchsin Muchtar, LC.,MA di depan para santri dalam acara Tarhib Ramadan, Jumat (28/2/2025).
Advertisement
Kegembiraan menyambut datangnya bulan Ramadan, bulan penuh berkah dan penuh kemuliaan, menurutnya, menjadi bulan pengampunan dari berbagai dosa dan maksiat selama kurang lebih setahun berlalu.
"Selain itu, Ramadan adalah bulan di mana diwajibkannya orang-orang yang beriman untuk berpuasa, sekaligus menjadi ajang menempa diri untuk meraih gelar mutakin," katanya.
Wajar bila kemudian umat Islam di berbagai penjuru dunia, dari dahulu hingga saat ini dianjurkan oleh Rasulullah untuk bergembira menyambut kedatangan Ramadan.
"Karena dengan menghadirkan kegembiraan dalam hati, menjadi bertanda kesiapan kita untuk melaksanakan puasa dengan sepenuh hati," terang alumni Timur Tengah ini.
TGH Muchsin menekankan beberapa hal di bulan Ramadan. Bulan suci ini merupakan bulan mulia karena mengandung perintah Allah dan seruan Rasulullah untuk wajib berpuasa sebulan penuh.
Pada bulan ini juga wahyu Allah yang berupa ayat-ayat Alquran diturunkan ke muka bumi. Keutamaan Ramadan lainnya ialah terdapat Lailatul Qadr di dalamnya, yakni satu malam yang lebih baik dari seribu bulan (Surah al-Qadar).
"Maka, bergembiralah kita sebagai umat Islam dalam menyambut datangnya bulan Ramadan yang penuh dengan keberkahan ini," imbuhnya.
Ia menambahkan, Rasulullah selalu memberi kabar gembira kepada para sahabatnya setiap kali datang bulan Ramadhan.
Rasulullah bersabda, “Telah datang pada kalian bulan Ramadan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan atas kalian untuk berpuasa di dalamnya. Pada bulan itu juga dibukakan pintu Surga serta ditutupnya pintu-pintu Neraka” (Riwayat Ahmad).
Demikian halnya para sahabat dan tabi’in di zaman Rasulullah maupun sesudahnya, mereka senantiasa bergembira dengan kedatangan bulan Ramadan.
Pada kesempatan itu pula TGH Muchsin menyoroti apa yang terjadi akhir-akhir ini, dimana kegembiraan menyambut datangnya Ramadan yang dilakukan oleh sebagian umat Islam hanya sebatas seremonial atau pencitraan diri.
Banyak orang yang justru merasa sesak dengan hadirnya Ramadan yang mewajibkan umat Muslim berpuasa sebulan penuh tersebut.
Karena Ramadan dianggap sebagai belenggu bagi kebebasan orang-orang tersebut. Belenggu yang dimaksud misalnya larangan makan, minum dan tidak boleh melakukan hal-hal yang membatalkan puasa lainnya.
Satu hal penting yang mesti ditekankan adalah, bagaimana agar meraih sukses ibadah puasa selama Ramadan. Puasa Ramadan merupakan perintah wajib bagi seluruh umat Islam yang telah dewasa (baligh) dan tidak memiliki uzur untuk menunaikannya.
Memang puasa adalah ibadah yang cukup berat, karena melibatkan rohani dan jasmani secara bersinergi, tanpa melepaskan unsur teknis personal maupun sosial.
Ibadah puasa tidak seperti ibadah wajib lainnya yang dapat dilihat, bahkan diukur atau dinilai secara kasat mata seperti shalat misalkan, dengan begitu mudah kita dapat mengetahui seseorang yang sedang mengerjakan shalat dan yang tidak pernah shalat.
Begitu juga halnya dengan orang-orang yang berzakat dan yang belum membayar zakat. Dengan kasat mata, kita dapat mengetahui dan mengukur keimanan orang-orang yang pelit atau kikir dalam membelanjakan hartanya di jalan Allah.
Kita juga dapat membedakan orang yang sedang menjalankan ibadah haji atau sekadar plesiran.
Berbeda dengan puasa, ia adalah ibadah rahasia yang hanya diketahui oleh Allah dan orang yang melakukannya. Amal ibadah puasa akan langsung dinilai oleh Allah, sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadis Qudsi yang menyatakan bahwa setiap amal anak-cucu nabi Adam akan kembali pada dirinya masing-masing, kecuali puasa.
"Puasa itu untuk Aku, dan Aku juga yang memberikannya pahala," kutipnya.
Dalam kesempatan itu juga TGH Muchsin menegaskan pentingnya di bulan Ramadan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan saling tolong menolong antar sesama.
Sebagai seorang santri yang nantinya akan kembali ke masyarakat perlu untuk melatih diri di bulan yang suci ini untuk gemar bersedekah sekecil dan semampu yang bisa dilakukan untuk menumbuhkan rasa persaudaraan dan rasa kebersamaan sebagai anak bangsa.
Suatu ketika Nabi Muhammad SAW. mengingatkan para sahabatnya, agar jangan membiarkan satu hari berlalu tanpa sedekah. Salah seorang sahabat yang merasa tidak memiliki kelebihan harta untuk disedekahkan bertanya.
“Bagi orang-orang seperti kami, bagaimana bisa bersedekah, wahai Rasulullah?
Nabi menjelaskan; “Sesungguhnya pintu kebajikan itu banyak, Mengucapkan tasbih, tahmid, takbir, tahlil dengan khidmat dan khusu, merupakan sedekah.
Mengajak orang kepada kebajikan dan melarang dari yang mungkar merupakan sedekah. Menyingkirkan batu dari jalan untuk memudahkan orang lewat, merupakan sedekah.
Menuntun orang buta menyeberang jalan, merupakan sedekah. Memberi petunjuk kepada orang yang bertanya kepadamu, merupakan sedekah.
Membantu orang-orang yang lemah dengan kekuatan dua betismu dan dua lenganmu adalah sedekah. Bahkan senyumanmu ketika berhadapan dengan saudaramu, juga merupakan sedekah.” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Hadis di atas memberi pemahaman bahwa sedekah memiliki makna yang luas dan setiap orang dapat melakukannya. Sedekah tidak dibatasi dalam bentuk materi, dimana hanya orang-orang mampu dan kaya yang bisa melakukannya.
Ucapan yang menyejukkan hati, atau senyum simpatik kepada orang lain juga merupakan sedekah. Tidak dipersoalkan sedekah itu banyak atau sedikit, berupa materi atau bukan, tapi yang terpenting ialah hasrat dan niat suci untuk mengukir jasa baik sepanjang hidup.
Sedekah mengisyaratkan betapa luasnya lapangan amal kebajikan bagi seorang muslim. Setiap orang dapat melakukannya, karena sedekah berfungsi merekat hubungan antar-manusia berlandaskan rasa empati, kasih sayang, dan persaudaraan. Karena kebahagian seorang muslim sejatinya jika dapat membahagiakan orang lain di sekitarnya.
Salah seorang ulama, Bisyr al-Hafi menuturkan, “Kalau kaum muslimin mau cerdas, memiliki keimanan yang benar, dan merasakan kebahagiaan yang lebih besar dan suasana kerohanian yang lebih kuat, maka dia harus memiliki kepekaan sosial yang kuat dengan memelihara anak-anak yatim, memberi makan orang-orang yang kelaparan, memberi tempat perlindungan kaum yang terlantar, mengobati orang sakit, mendidik orang-orang yang tidak berilmu, atau memberi kesempatan bekerja kepada mereka yang menganggur”.
Setiap muslim, dalam spirit taat kepada Allah dan peduli kepada sesama, dianjurkan senantiasa menanam kebajikan dengan berbuat baik bagi kepentingan orang banyak, sebagai sarana yang mengantarkan kepada kebahagiaan dunia dan akhirat.
Ali Syariati, pemikir muslim asal Iran mengatakan, Seorang yang saleh tidak akan membiarkan dirinya hidup dalam suasana hedonisme dan individualis. Kehidupan akan menggerakkannya dan zaman akan mencatat amal baiknya untuk orang lain.
Akhirnya sebagai sebuah penutup, beliau menyampaikan bahwa bulan Ramadhan adalah bulan latihan, latihan kesabaran, latihan berjuang melawan diri sendiri (pengendalian diri), dan berjuang menumbuhkan solidaritas sosial. Pada saat yang sama, beliau juga berharap adanya toleransi beragama dengan saling menghormati dan menjaga keamanan serta kesadaran beragama dan berbangsa. (*)
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Hendarmono Al Sidarto |
Publisher | : Sholihin Nur |