Program SUIJI-SLP, Mahasiswa Jepang Berkebun Jambu Kristal dan Mengenal Tradisi Cucurak

TIMESINDONESIA, BOGOR – Six University Initiative Japan Indonesia – Service Learning Program (SUIJI-SLP) kembali diselenggarakan oleh IPB University melalui Direktorat Pengembangan Masyarakat Agromaritim bekerjasama dengan Direktorat Pendidikan Internasional.
SUIJI-SLP merupakan program konsorsium antara enam perguruan tinggi di Jepang dan Indonesia. Perguruan tinggi tersebut adalah Ehime University, Kagawa University, Kochi University, IPB University, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Hasanuddin. SUIJI-SLP bertujuan untuk meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap pengembangan masyarakat desa.
Advertisement
Para peserta SUIJI-SLP melaksanakan Service Learning Program. Desa Wisata Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, yany merupakan salah satu desa yang terpilih menjadi tempat untuk peserta SUIJI-SLP mengabdi dan belajar.
Desa ini terpilih menjadi lokasi pengabdian karena memiliki potensi agrowisata yang terus berkembang. Mahasiswa Jepang dan mahasiswa IPB University melakukan tracking sejauh 40 menit mengelilingi desa untuk mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat setempat, sebelum akhirnya berkunjung ke Perkebunan Cahaya Tani, tempat pengembangan budidaya jambu kristal.
“Kelompok Cahaya Tani bekerja sama dengan Desa Wisata Benteng dan membudidayakan 300 pohon jambu kristal. Ini adalah salah satu terobosan bagi kami selaku Gapoktan untuk menghubungkan para kelompok tani dengan perkembangan zaman,” ujar Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Supardi, dalam keterangan yang diterima TIMES Indonesia, Kamis (27/2/2025).
Pada kunjungan ini, mahasiswa Jepang dan mahasiswa IPB University tidak hanya mempelajari teknik budidaya jambu kristal, tetapi juga diberikan kesempatan untuk langsung memetik dan mencicipi buah segar dari pohonnya.
Pengalaman ini disambut dengan antusias oleh peserta SUIJI-SLP. Salah satu mahasiswa asal Jepang mengungkapkan rasa kagumnya terhadap metode pertanian yang diterapkan oleh petani lokal dan berharap dapat menerapkan pembelajaran ini di negaranya.
“Saya sangat berterima kasih kepada semua orang di Cahaya Tani karena telah menyambut kami dengan hangat. Jambu kristal yang saya petik sangat manis dan lezat. Tempat ini membuat saya tersenyum berkali-kali. Saya berharap tempat ini terus berkembang dan semakin banyak orang yang dapat merasakan kebahagiaan serta manfaat dari pertanian berkelanjutan di sini,” kata Mikoto salah satu mahasiswa Jepang yang berasal dari Ehime University.
Cucurak, tradisi makan bersama ala Sunda menyambut Ramadan. (FOTO: Dinda for TIMES Indonesia)
Menurutnya bahwa melalui pengalaman ini, program SUIJI-SLP tidak hanya menjadi ajang pertukaran ilmu, tetapi juga mempererat hubungan antara mahasiswa dari dua negara serta mendukung keberlanjutan pertanian berbasis komunitas.
"Selain itu, diharapkan program in dapat terus berkembang dan tidak hanya memberikan manfaat bagi mahasiswa, tetapi juga untuk masyarakat desa dan sektor pertanian secara luas," ungkapnya penuh harap.
Tinggal hitungan hari untuk menyambut ramadan, beberapa masyarakat di berbagai daerah memiliki tradisi yang masih terus dilestarikan untuk menyambut ramadhan, seperti pada masyarakat RW. 06 Desa Wisata Benteng, Ciampea, Kabupaten Bogor, yang mengadakan Cucurak sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur. Malam harinya mahasiswa SUIJI-SLP diajak masyarakat setempat untuk ikut serta dalam kegiatan Cucurak.
Tradisi Cucurak ini tidak hanya menjadi momen menyambut ramadan, tetapi juga menjadi ajang memperkenalkan budaya lokal kepada mahasiswa Jepang yang tergabung dalam Program SUIJI-SLP 2025.
Dalam acara tersebut, mahasiswa Jepang berkesempatan untuk merasakan langsung tradisi makan bersama yang khas, di mana makanan disajikan secara lesehan dan dinikmati bersama-sama sebagai simbol kebersamaan dan keberkahan.
Antusiasme para mahasiswa terlihat dari keikutsertaan mereka dalam tradisi ini, yang sekaligus memperkaya pengalaman budaya selama berada di Indonesia. Diharapkan melalui kegiatan Cucurak, budaya lokal semakin dikenal luas dan mempererat hubungan antara masyarakat setempat dengan mahasiswa internasional.
**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.
Editor | : Faizal R Arief |
Publisher | : Rizal Dani |