Tekno

Dari Alun-Alun Virtual ke Ruang Berita: Menanti Akhir Hayat Media Sosial

Rabu, 07 Februari 2024 - 11:59 | 31.78k
Ilustrasi kekacauan media sosial. (Foto: Bing AI/Akademi AI Indonesia for TIMES Indonesia)
Ilustrasi kekacauan media sosial. (Foto: Bing AI/Akademi AI Indonesia for TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Di antara hiruk-pikuk zaman yang serba digital ini, layar-layar kecil yang menyala di telapak tangan manusia telah menyulap ruang dan waktu. Lalu, menggiring kita ke dalam serambi yang tak kasatmata: media sosial. 

Laksana sebuah panggung tanpa tirai, di mana setiap orang menjadi aktor sekaligus penonton, media sosial menjelma menjadi alun-alun kota maya yang tak pernah sepi. Ramai. Ribut. Bahkan menjadi pasar barbar yang tak jelas antara informasi, misinformasi, dan disinformasi. Tak jelas antara kabar loaks dan hoaks. 

Dua puluh tahun lalu, Facebook lahir ke dunia. Sebuah fenomena yang menggebrak, bagai remaja yang penuh semangat dan kontroversi. Kini, dengan nama besar Meta di baliknya, jaringan ini layaknya remaja yang tetap mempertahankan semangatnya meski usianya terus bertambah. Kritikan dan pujian berlomba memadati platform ini, seakan menari dalam irama yang sama.

Transformasi media sosial, yang dulunya hanyalah tempat berkumpul dan berbagi, kini menjelma menjadi amalgam kompleks. Interaksi yang dulu intim kini bercampur dengan siaran massal. Mengaburkan batasan antara privat dan publik. 

Kita menyaksikan perubahan dari status yang terpisah menjadi aliran komunikasi ganda. Membelah perhatian kita dari dua arah yang berbeda.

Meta, yang dulunya hanya sebatas jejaring untuk teman-teman, kini telah menjadi "alun-alun kota" digital kita. Sebuah arena debat politik yang tak terelakkan. Sosok-sosok seperti Donald Trump dan Narendra Modi pun tak lagi hanya berkelana di dunia nyata. Diikuti pula tokoh Indonesia yang tak terhitung nama dan agendanya. Mereka juga sibuk mengukir jejak dalam dunia maya.

Perubahan ini membawa kita pada era baru, di mana media sosial tidak lagi hanya tentang bersosialisasi. Algoritme yang cerdas, seperti yang ditemukan dalam TikTok, mengubah cara kita berinteraksi dengan konten yang kita konsumsi. Kita dibawa kepada pengalaman yang dipersonalisasi. Namun pengalaman itu kadang membawa kita menjauh dari koneksi manusia yang sesungguhnya.

Namun, penting diutarakan, dalam gempita perubahan ini, kita juga menemukan celah-celah harapan. Terbukanya diskusi politik dan fokus yang lebih tajam pada topik tertentu menjadi bukti positif dari transformasi ini. 

Tapi, kenyataan pahit juga mengintai. Ia adalah ruang privasi yang terusik dan berita palsu yang berkeliaran bebas.

Kita menyaksikan bagaimana sistem-sistem baru, yang didorong oleh keinginan untuk meningkatkan engagement, dapat memunculkan kekhawatiran akan penyebaran desinformasi. Provokator dan pedagang misinformasi berdiri di barisan terdepan, memanen keuntungan dari sistem yang lebih mementingkan popularitas daripada kebenaran.

Di dalam media sosial yang tertutup, kita mungkin menemukan tempat perlindungan dari pandangan publik, namun tempat itu juga bisa menjadi sarang bagi ide-ide ekstrem. Pengguna, berpotensi untuk menggambarkan diri secara tidak realistis, bahkan mungkin dengan cara yang lebih ekstrem dari yang kita sadari.

Dan masalah yang lebih mendesak adalah tergerusnya sumber berita yang kredibel. Kita memasuki era di mana berita nyata menjadi barang langka. Algoritma lebih memilih untuk memanjakan otak dengan konten yang menghibur daripada yang informatif. Kita kehilangan jejak investigasi yang mendalam, berita yang tak hanya menarik, tapi juga penting.

WhatsApp dan media sosial serupa menjanjikan perbaikan atas kekurangan ini, namun generasi baru media sosial ini juga membawa tantangan baru. Kita dihadapkan pada dilema antara menjaga keterbukaan dan mengatasi masalah privasi, desinformasi, serta penurunan kualitas berita.

Saatnya merenungkan dan mengurai benang kusut yang kita hadapi dalam dunia media sosial yang terus berkembang. Dalam aliran informasi yang tak pernah surut, kita diajak untuk berenang, belajar menyesuaikan diri dengan arus yang ada, sambil terus mengingat bahwa di balik semua. 

Sampai kapan mampu berenang di tengah samudera informasi yang kian membanjir? Mungkin semua ini akan bisa dijawab saat kegelisahan akan kebenaran berita makin menyeruak menjadi keinginan yang nyata. Lalu, kesadaran kita menjadi lebih tinggi. 

Dan, saat itulah media sosial hanya akan menjadi nama! The end of social media! Semoga Hari Pers Nasional tahun depan saat-saat itu bisa kita nikmati. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Khoirul Anwar
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES