Tekno

Algoritma Medsos Menenggelamkan Kita pada Kebencian Tak Berujung

Rabu, 21 Februari 2024 - 15:52 | 27.73k
Ilustrasi - Algoritma Media Sosial (Foto: theinternetofallthing)
Ilustrasi - Algoritma Media Sosial (Foto: theinternetofallthing)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Dalam keheningan malam yang terkadang terasa begitu pekat, kita seringkali lupa bahwa cahaya pagi selalu menjanjikan kehangatan baru. Namun, dalam labirin digital yang tak berujung, di mana setiap klik dan gesekan layar membawa kita lebih dalam ke dalam jurang tak berdasar, kita menemukan diri kita terperangkap dalam bayang-bayang kebencian yang terus menerus dibentuk dan diperkuat oleh algoritma media sosial.

Cyber Ghetto, Echo Chamber, dan Filter Bubble

Seiring dengan usainya Pilpres 2024, panggung media sosial yang seharusnya menjadi ruang demokrasi dan diskusi bebas, perlahan-lahan berubah menjadi arena perang opini yang dipenuhi kebencian. Algoritma yang sejatinya diciptakan untuk mempersonalisasi pengalaman kita di internet, tanpa kita sadari telah mengunci kita dalam cyber ghetto, echo chamber, dan filter bubble yang semakin mempertajam garis pembagian dan menambah kedalaman jurang pemisah di antara kita.

Tiga hal yang menjadikan entitas digital mempengaruhi proses panjang pikiran manusia. Yakni cyber ghetto, echo chamber, dan filter bubble. Ketiganya adalah konsep yang menjelaskan bagaimana realitas digital kita dibentuk. 

Cyber ghetto mengurung kita dalam wilayah digital yang homogen. Echo chamber memantulkan kembali pandangan dan opini kita tanpa tantangan. Dan, filter bubble menyaring informasi yang kontras dengan keyakinan kita, sehingga kita hanya diberi makanan pikiran yang sejalan dengan apa yang sudah kita percayai. 

Semakin kita terbenam dalam lingkungan ini, semakin kita jauh dari realitas yang sebenarnya beragam dan kompleks.

Ambil contoh ketika algoritma memainkan peran dalam memperkeruh suasana politik dengan mempromosikan konten yang mengandung kebencian terhadap salah satu pasangan calon. Bukannya mendapat informasi yang berimbang, kita malah disuguhi narasi-narasi yang memicu emosi, memperdalam prasangka, dan memecah belah kesatuan. Kita menjadi pion dalam permainan kekuasaan di mana kebencian menjadi mata uangnya.

Pada dasarnya, algoritma tidak memiliki preferensi moral atau etika. Ia hanya mencerminkan dan memperkuat pola perilaku kita sendiri yang terkadang bisa berujung pada hasil yang merusak. 

Dengan menggunakan data dari interaksi kita, algoritma ini memperkirakan apa yang ingin kita lihat berikutnya. Sering kali tanpa memperhitungkan dampak jangka panjang dari konten negatif yang terus-menerus kita konsumsi.

Mengurangi Dampak Negatif

Untuk membebaskan diri dari rantai kebencian ini, kita perlu mengambil langkah aktif. Edukasi digital dan literasi media menjadi kunci. Kita harus belajar untuk mengenali dan memahami bagaimana algoritma bekerja dan bagaimana ia mempengaruhi pemahaman kita tentang dunia. Kita harus berani keluar dari zona nyaman kita, mengeksplorasi pandangan yang berbeda, dan berdialog dengan pikiran terbuka.

Seperti matahari yang selalu menemukan jalan untuk bersinar melalui celah awan, manusia juga harus menemukan jalannya sendiri untuk menembus kegelapan kebencian yang diperkuat oleh algoritma. Jangan biarkan diri kita terjebak dalam kubangan kebencian dan kenegatifan. 

Ubah cara pandang kita, isi pikiran kita dengan narasi-narasi yang membangun dan positif. Hanya dengan demikian kita dapat membebaskan diri dari belenggu kebencian yang mencoba untuk menarik kita ke dalam kedalaman jurang yang mencekam.

Dalam perjalanan Pilpres 2024 dan setelahnya, mari kita ingat bahwa di balik layar dan kode, kita semua adalah manusia yang merindukan kedamaian, keharmonisan, dan kebahagiaan bersama. Melalui pemahaman, kesabaran, dan empati, kita bisa membangun jembatan di atas jurang yang membelah kita, dan bersama-sama melangkah ke masa depan yang lebih cerah dan inklusif. 

Kita harus mengingat bahwa setiap klik, setiap share, dan setiap like adalah suara kita dalam algoritma besar kehidupan digital. Dengan menggunakan suara itu dengan bijak, kita bisa membantu mengarahkan algoritma ke arah yang lebih positif. Membuka jalan bagi konten yang memperkaya pemikiran dan dialog yang konstruktif.

Mari kita mengambil pelajaran dari alam yang dengan sabar mengajarkan kita tentang kekuatan perubahan dan adaptasi. Seperti aliran sungai yang terus menerus mengukir jalannya melalui batu, demikian pula tekad dan keinginan kita untuk menciptakan dunia digital yang lebih sehat dan lebih positif dapat mengatasi rintangan yang tampaknya tak tergoyahkan. 

Tidak ada malam yang terlalu gelap, tidak ada dingin yang terlalu mendalam, yang tidak bisa dihangatkan oleh cahaya kebaikan yang kita ciptakan bersama. Mari kita bersama-sama memilih untuk menjadi cahaya itu. Alangkah indahnya bukan? (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES