Wisata

Yuk Mengenal Lebih Dekat Perayaan Hari Raya Nyepi di Bali

Jumat, 02 September 2022 - 07:03 | 41.45k
Poster Ucapan Selamat Hari Raya Nyepi (Foto: Kalderanews.com)
Poster Ucapan Selamat Hari Raya Nyepi (Foto: Kalderanews.com)

TIMESINDONESIA, JAKARTABali identik dengan keindahan dan kebudayaannya yang beragam. Hal tersebut tidak luput dari keberadaan agama Hindu di Bali. Segala hal yang terdapat di Bali saling terkait, mempengaruhi dan membangun kebudayaan Pulau Dewata termasuk Hari Raya Nyepi.

Nyepi memiliki arti sepi atau sunyi. Hari Raya Nyepi memiliki filosofi yang menggambarkan umat Hindu memohon kepada Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, untuk melakukan penyucian Buana Alit (manusia) dan Buana Agung (alam dan seluruh isinya).

Advertisement

Hari Raya Nyepi adalah hari pergantian tahun Saka (Isakawarsa) yang dirayakan setiap satu tahun sekali yang jatuh pada sehari sesudah tileming kesanga (hari raya tilem ke-9 kalender Bali) pada penanggal satu sasih Kedasa.

Hari-Raya-Nyepi-2.jpgJalan Raya di Bali Sepi Saat Hari Raya Nyepi (Foto: Bali Tribune)

Pada saat perayaan Hari Raya Nyepi tidak boleh melakukan aktivitas umum, misalnya keluar rumah (kecuali sakit atau keperluan berobat), bekerja, menyalakan lampu, dan lain-lain.

Tujuan dari perayaan Hari Raya Nyepi ini adalah agar tercipta suasana hening, tenang, sepi dari hirup pikuknya kehidupan dunia dan dijauhkan dari segala hawa nafsu atau sifat keserakahan manusia.

Banyak kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Bali sebelum Hari Raya Nyepi, seperti melaksanakan serangkaian upacara dan upakara yang bertujuan agar Penyucian Buana Alit dan Buana Agung berjalan dengan lancar tanpa halangan.

Namun, pelaksanaan upacara dan upakara di setiap daerah Bali berbeda-beda bergantung pada kebijakan daerah masing-masing.

Hari-Raya-Nyepi-3.jpgMasyarakat Bali dan Ogoh-Ogoh (Foto: Travellink Indonesia)

Dalam pelaksanaan upacara di Bali juga memiliki beberapa tahapan yaitu sebagai berikut:

  1. Upacara Melasti (menghanyutkan kekotoran alam menggunakan air kehidupan).
  2. Mecaru atau Tawur (membuat sesajen yang ditujukan kepada para Bhuta Khala atau hal-hal negatif agar nantinya tidak mengganggu kehidupan manusia).
  3. Pengerupukan (menyebar nasi tawur dengan membuat api atau obor di lingkungan rumah). Dalam kebudayaan dan tradisi Bali, Butha Kala dapat digambarkan dalam seni patung atau yang disebut ogoh-ogoh. Perwujudan Buta Kala ini akan diarak keliling lingkungan, dan kemudian dibakar. Tujuannya sama, yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.
  4. Puncak perayaan Hari Raya Nyepi.
  5. Ngembak Geni (kunjungan antarkeluarga, tetangga, atau kenalan).

Menurut umat Hindu, segala hal yang bersifat peralihan selalu didahului dengan perlambang gelap sehingga Hari Raya Nyepi dapat dikatakan memiliki arti hari penyucian diri manusia dan alam semesta dan memulai tahun baru dengan sesuatu yang baru.

Jadi, tidak heran jika perayaan Hari Raya Nyepi masih terus dilakukan oleh masyarakat Bali karena itu merupakan budaya yang harus dilestarikan. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ronny Wicaksono
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES