Wisata

Menilik Makam Tua Peninggalan Belanda di Kota Malang

Minggu, 25 September 2022 - 07:25 | 27.61k
Menilik Makam Tua Peninggalan Belanda di Kota Malang
Atap peninggalan kolonial Belanda dengan ornamen patung Malaikat yang mengelilingi makam. (Foto: Rizky Kurniawan Pratama/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Kota Malang memang menyimpan kisah sejarah yang masih kental dan terlihat jelas hingga saat ini. Salah satunya adalah makam tua zaman kolonial Belanda yang atapnya dikeliling oleh malaikat.

TIMES Indonesia mencoba menelusuri makam tua Belanda tersebut. Tepatnya, makam yang dikelilingi patung malaikat itu terletak di Jalan Kolonel Sugiono 9 D, Kelurahan Mergosono, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Tak perlu kebingungan mencari makam tua Belanda tersebut, saat memasuki gang, tepat di depannya terlihat bangunan atap besar peninggalan kolonial Belanda dengan ornamen-ornamen cantik yang masih original hingga sekarang.

Nampak ada empat patung malaikat yang mengelilingi atap makam tua Belanda tersebut. Jika dilihat secara jeli, patung tersebut memiliki kesan misterius atau bisa jadi sebagai penjaga area tersebut.

TIMES Indonesia pun bertemu oleh salah satu orang yang merawat dan menunggu makam tersebu bernama Sugianto. Ia merupakan anak dari Bu Tumini dan Pak Paikun yang menjadi saksi atas adanya makam tua tersebut.

kolonial-Belanda-dengan-ornamen-patung-Malaikat-a.jpg

Konon katanya, makam tersebut ada sejak tahun 1900an, yang dimana lokasi tersebut memang dulunya merupakan tempat pemakaman Belanda dan juga China.

Hanya ada satu makam yang belum diketahui pasti siapa. Namun, dahulu area tersebut hanya ada makam di bawahnya yang ditutup atap dengan dikelilingi patung malaikat.

"Dulu ini cuma pilar-pilar saja dan atasnya atap itu yang ada patung-patung," ujar Sugianto kepada TIMES Indonesia, Minggu (18/9/2022).

Jika dilihat sekarang, bagian bawah dari atap yang dikeliling patung malaikat tersebut, terdapat rumah peninggalan dari orang tua Sugianto.

Ia mengungkapkan bahwa makam tersebut sekitar tahun 1985 telah dipindahkan oleh keluarga dari makam tersebut. Lalu, di tahun 1986 lokasi tersebut dihibahkan ke orang tua Sugianto dan akhirnya dibangunlah tembok di sekelilingnya untuk menutup rumah yang masih ada sampai sekarang.

"Dulu los gak ada tembok. Terus dikasih tembok sama ibu saya. Kalau saya mulai disini tahun 1997, awalnya dulu ibu saya," ungkapnya.

Dari sepengetahuan Sugianto, orang yang dimakamkan disitu dulunya seorang mandor di era kolonial Belanda. Namun ia tak mengetahui persis pastinya.

Akan tetapi, pesan dari keluarga pemilik makam, atap dengan ornamen patung malaikat yang mengelilingi tak boleh dibongkar sampai kapan pun.

Oleh sebab itu, atap tersebut masih berdiri kokoh beserta pilar-pilar yang sudah menempel dengan bangunan rumah tersebut.

"Bangunan pilar dan lantai masih asli. Makamnya tepat di kamar saya dulunya. Pesan dari anak yang punya makam itu jangan dirubah dan dibongkar, walaupun bawahnya sudah jadi tempat tinggal," tuturnya.

kolonial-Belanda-dengan-ornamen-patung-Malaikat-b.jpg

Terpisah, Pemerhati Budaya dan Sejarah, Agung Buana ternyata pernah melakukan survey dilokasi makam tersebut.

Dari hasil penelitian, makam itu sebenarnya bukan milik orang Belanda. Akan tetapi, makam tersebut milik konglomerat China yang dimana saat era kolonial Belanda memang para konglomerat China banyak yang meniru kehidupan bangsawan-bangsawan Eropa.

"Maka rumah dan makam mereka ciri-cirinnya Eropa, tapi over ornamen. Bisa dipastikan makam itu seorang konglomerat China yang meninggal di era sebelum penjajahan Jepang," bebernya.

Era kolonial Belanda dulu, para konglomerat China memiliki usaha mayoritas perdagangan hasil bumi dan perkongsian.

"Dari yang saya dapat, sekitar tahun 1947-1950 makam China kawasan itu dipindahkan. Untuk makam yang atapnya masih utuh itu, sepertinya setelah semua dipindah baru itu dipindah oleh keluarganya," imbuhnya.

Setidaknya terdapat enam sampai delapan pilar dan atap yang masih terjamin originalitas ya hasil peninggalan era kolonial Belanda di tahun 1900an.

Ternyata di kawasan tersebut, makam era kolonial Belanda bukan hanya itu satu-satunya, namun masih ada beberapa yang lain. Namun, yang masih terlihat utuh hanya makam tersebut saja.

"Masih ada beberapa cuma yang terlihat utuh itu. Lainnya tinggal puing-puing dan ada yang sudah tidak berbentuk," ungkapnya.

Menilik ke belakang lagi, di era kolonial, Belanda memiliki komplek pemakaman yang pertama kali ada di kawasan Trunojoyo, Kecamatan Klojen, Kota Malang di tahun sebelum 1900an.

Kemudian, Belanda juga memiliki makam China yang ada di sebelah timur Klenteng, tepatnya di Jalan Laksamana Martadinata, Kota Lama, Kota Malang.

"Makam China daerah situ ada sejak 1831 bersamaan dengan dibangunnya Klenteng. Saat Klenteng butuh lahan, makam pun di geser ke timur lagi," jelasnya.

Jika melihat dari ornamen makam, dengan patung malaikat yang mengelilingi, bisa dipastikan berdiri di tahun 1900an. Hal ini dikarenakan, model makam yang paling populer seperti itu ada di tahun 1900an awal.

"Gak ada makna khusus, emang itu model ornamen Belanda ada malaikat-malaikatnya gitu. Ornamen seperti itu populer tahun 1900an awal," tandasnya terkait makam tua Belanda tersebut.(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

KOPI TIMES