Wisata

Candi Kidal, Pusaka Kejayaan Peradaban Jawa Timur yang Tersembunyi

Selasa, 12 Maret 2024 - 14:01 | 27.65k
Candi Kidal di Malang yang merupakan peninggalan Kerajaan Singasari. (Foto-foto: Khasanul Imal/ TIMES Indonesia)
Candi Kidal di Malang yang merupakan peninggalan Kerajaan Singasari. (Foto-foto: Khasanul Imal/ TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, MALANG – Di balik gemerlap modernitas kota Malang, Jawa Timur, terdapat sebuah warisan kuno yang masih menyimpan misteri dan keindahan tak tergoyahkan: Candi Kidal. Dalam kesejarahan panjang Indonesia, candi ini merupakan salah satu peninggalan megah yang menyiratkan kebesaran peradaban masa lalu.

Tersembunyi di tengah perbukitan hijau yang menawan, Candi Kidal telah menjadi daya tarik bagi para sejarawan, arkeolog, dan wisatawan yang haus akan keindahan budaya.

Canfi Kidal terletak sekitar 20 kilometer sebelah timur Kota Malang, tepatnya di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi ini menjadi saksi bisu kejayaan zaman Kerajaan Singhasari pada abad ke-13 Masehi.

Sejarah Candi Kidal

Asal-usul nama "Kidal" sendiri masih belum pasti. Ada teori yang mengatakan bahwa nama ini berasal dari kata "kidul" yang berarti selatan dalam bahasa Jawa, karena posisi candi yang berada di sebelah selatan Gunung Kawi. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa nama Kidal berasal dari kata "kidal" yang artinya kaki kiri, mungkin merujuk pada kemiringan atau posisi kaki candi yang cenderung ke kiri

Candi kidal di temukan oleh Sir Thomas Stamford Raffles pada awal abad ke-11 ketika ditugaskan di Jawa. Candi Kidal dibangun pada 1248 M, setelah Cradha atau upacara pemakaman Raja Anusapati.

Tujuan pembangunan candi ini adalah untuk mendarmakan Anusapati, agar mendapat kemuliaan sebagai Syiwa Mahadewa, bicara mengenai raja anuspati, ada dua versi cerita kehidupan raja anuspati yang masing-tercatat pada kitab Negarakertagama dan Pararaton.

Bicara tentang sejarah Candi Kidal tidak dapat dipisahkan dari narasi mengenai peristiwa kematian dan kontribusi Raja Anusapati terhadap Kerajaan Singosari. Kisah ini terabadikan dalam Kitab Negarakertagama, yang ditulis oleh Empu Prapanca pada tahun 1365, pada masa keemasan Majapahit.

Dalam karya ini, disampaikan bahwa Anusapati merupakan putra dari Ranggah Rajasa Sang Girinathaputra, pendiri Kerajaan Tumapel atau Singosari. Pada tahun 1227, Anusapati naik takhta menggantikan ayahnya, menjadi raja.

Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Singosari berkembang makmur dan tenteram hingga digantikan oleh putranya, Wisnuwardhana, pada tahun 1248 M. Momen ini menjadi awal dari peran penting Candi Kidal sebagai tempat upacara pemakaman untuk Anusapati, yang dipuja sebagai dewa Syiwa.

Sebaliknya kitab Pararaton merinci peristiwa kontroversial tentang Anusapati (1247-1249) yang disebut sebagai pembunuh Ken Arok. Dalam narasi Pararaton, Anusapati diidentifikasi sebagai putra dari Tunggul Ametung, penguasa Tumapel, dengan istrinya, Ken Dedes. Pada masa itu, Tumapel, sebagai embrio dari Kerajaan Singasari, berada di bawah kekuasaan Kerajaan Kediri yang dipimpin oleh Tunggul Ametung sebagai akuwu atau pemimpin wilayah.

Tahun 1222, yang diabadikan dalam Pararaton, mencatat kematian Tunggul Ametung yang dibunuh oleh Ken Arok, yang sebelumnya adalah pengawal sang akuwu. Ken Arok kemudian menikahi Ken Dedes yang pada saat itu sedang hamil. Anak Ken Dedes dari pernikahannya dengan Tunggul Ametung, yakni Anusapati, menjadi tokoh penting dalam narasi ini.

Dikutip dari keterangan dalam buku yang mengacu pada Pararaton (1965) karya R. Pitono, setelah menggulingkan Tunggul Ametung dan menikahi Ken Dedes, Ken Arok memegang kendali atas Tumapel, memisahkan diri dari Kerajaan Kediri, dan mengumumkan berdirinya kerajaan baru yang diberi nama Singasari.

Versi Pararaton tentang pembunuhan Anusapati melibatkan Panji Tohjaya, anak Ken Arok dengan istri lainnya, Ken Umang, selain Ken Dedes. Pararaton mencatat kematian Anusapati pada tahun 1248 M, menambah lapisan kompleksitas dalam dinamika politik dan persaingan kekuasaan pada masa itu. 

Arsitertur Candi Kidal

Candi-Kidal-a.jpg

Keistimewaan Candi Kidal menonjol melalui tiga fragmen relief yang menggambarkan kisah Garudeya yang terukir dengan indah pada kaki candi. Dalam relief pertama, tergambar Garuda memikul tiga ekor ular besar, di relief kedua, Garuda tampak dengan kendi di atas kepala, dan dalam relief terakhir, Garuda menopang seorang perempuan. Semua relief ini mencerminkan pengabdian Raja Anusapati kepada ibunya, Ken Dedes.

Struktur Candi Kidal berbentuk bujur sangkar dengan sisi sepanjang 8,36 meter, dilengkapi dengan tangga masuk di sisi baratnya. Bangunan candi ini menampilkan karakteristik yang khas dari gaya arsitektur Jawa Timur, dengan kaki candi yang besar dan sedikit lebih tinggi, serta tubuh candi yang sedikit condong ke belakang. Pada bagian atasnya, candi ini berbentuk piramida dengan puncaknya yang kubus.

Secara keseluruhan, Candi Kidal terdiri dari tiga bagian utama: kaki candi, badan candi, dan atap candi. Berikut adalah gambaran detail dari masing-masing bagian tersebut:

  1. Atap Candi : Atap candi memiliki bentuk kotak bertingkat tiga dengan luas yang semakin kecil ke arah atas. Puncaknya, meskipun tidak runcing, memiliki permukaan yang cukup luas dan berbentuk persegi. Meskipun tidak terdapat stupa atau ratna sebagai hiasan di puncak atap candi, sekitarnya dihiasi dengan ukiran bunga dan sulur-suluran.
  2. Badan Candi: Badan candi juga berbentuk bujur sangkar, dengan panjang sisi sekitar 5,3 meter dan tinggi 4,92 meter. Dindingnya dihiasi dengan pahatan medalion yang menggambarkan berbagai tanaman hias, bunga, dan sulur-suluran. Di bagian ini, terdapat bilik berukuran 1,9 meter x 1,9 meter dengan tinggi 2,6 meter yang berbentuk piramida.
  3. Kaki Candi: Kaki candi berbentuk bujur sangkar dengan panjang sisi sekitar 6,82 meter dan tinggi 1,94 meter. Akses ke selasar di lantai kaki candi dapat dicapai melalui tangga batu yang terletak di depan pintu masuk. Di sekitar kaki candi, terdapat hiasan pahatan berbentuk medalion yang disusun secara berjajar, dihiasi dengan motif bunga dan sulur-suluran.

Namun, keindahan Candi Kidal tidak hanya terletak pada strukturnya yang megah. Di balik tiap relief dan ukiran batunya terdapat kisah-kisah epik dari zaman dahulu, menghidupkan kembali kejayaan serta kehidupan sehari-hari masyarakat pada masa itu. Setiap sudut candi menyimpan cerita yang memikat dan menjadi sumber inspirasi bagi para pengunjung yang ingin menggali lebih dalam tentang sejarah Indonesia.

Meskipun telah berusia ratusan tahun dan mengalami berbagai tantangan alam maupun manusia, Candi Kidal tetap berdiri dengan gagahnya. Namun, keberadaannya perlu dijaga dengan baik sebagai bagian tak terpisahkan dari warisan budaya bangsa. Banyak upaya pemeliharaan dan restorasi telah dilakukan, namun tantangan masih terus ada.

Harga tiket dan jam buka Candi Kidal

Nikmati pengalaman tak terlupakan di Candi Kidal tanpa harus merogoh kocek Anda! Tiket masuk ke situs bersejarah ini benar-benar gratis, cukup dengan mengisi sedikit data pengunjung. Dan jangan lewatkan kesempatan untuk menjelajahi keajaiban candi ini, karena pintu gerbangnya terbuka mulai pukul 07.30 hingga 16.00 WIB (Senin-Kamis), dan 07.30 hingga 16.30. Jadi, siapkan diri Anda untuk petualangan yang memikat di JawaTimur!

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES