Wisata

Gaya Arsitektur Gereja Ijen Malang Yang Jadi  Bangunan Cagar Budaya

Sabtu, 20 April 2024 - 00:11 | 28.90k
Gereja Ijen zaman dahulu dan sekarang. (FOTO: Istimewa)
Gereja Ijen zaman dahulu dan sekarang. (FOTO: Istimewa)

TIMESINDONESIA, MALANG – Ada banyak bangunan tua dan bersejarah di Kota Malang.  Salah satunya yakni Gereja Katedral Paroki Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel atau yang banyak dikenal dengan Gereja Katedral Ijen Malang. Gereja yang terletak di Jalan Besar Ijen ini menjadi salah satu gereja tua yang menyimpan banyak sejarah.

Gereja ini memiliki arsitektur yang indah. Tak ayal jika bangunan ini juga banyak menarik wisatawan untuk bersua foto di depan gedung bersejarah ini. Bangunan ini juga telah ditetapkan sebagai Bangunan Cagar Budaya pada tahun 2018 oleh Wali Kota Malang Sutiaji.

Mengutip dari surat keputusan penetapan Gereja Ijen sebagai Cagar Budaya oleh Pemkot Malang,  Gereja Katedral ljen dirancang oleh R. Rijksen (1854-1928) dan Henri Louis Joseph Marie Estourgie (1885-1964), dua arsitek Belanda yang pernah bekerja sama pada Biro Arsitek Eduard Cuypers.

Biro Arsitek Eduard Cuypers ini dikenal sebagai tempat berkembangnya bakat-bakat muda arsitek Belanda yang kemudian terkenal dengan aliran/gaya Amsterdam School. Akhir abad 19 hingga awal abad 20, dunia mengalami era industri yang pada akhirnya memberi pengaruh pada gaya/aliran arsitektur di Eropa pada tahun 1900an.

Rijksen dan Estourgie yang di Belanda telah banyak merancang bangunan bergaya Amsterdam school dan art deco, membawa inspirasi ini pada Theresia Kerk. Mereka berdua ketika mendesain gereja ini tetap mempertahankan citra bangunan Gereja Eropa yaitu arsitektur Romanesque dan arsitektur Gothic.

Rijksen dan Estourgie dalam rancangan gereja masih menggunakan denah bangunan simetri berdasarkan hierarki salib dan aksis horizontal yang diakhiri dengan lengkungan sebagai altar/area persembahan yang merupakan bentuk klasik Romanesque dan Gothic.

Busur lengkung pada jendela samping maupun depan, dinding tebal (+30cm) pada gereja ini menunjukkan bahwa sistem dinding pemikul Neo-Romanesque dan system rangka atap baja yang dibungkus beton adalah perwujudan gaya Neo-Gothic. Hal ini menunjukkan keterbatasan teknologi konstruksi pada saat itu. Namun juga mempertegas pengaruh arsitektur Romanesque dan Gothic yang selalu menggunakan system konstruksi dinding pemikul.

Gaya Neo-Klasik sebagai semangat pembaruan gaya Romanesque tampak dengan hadirnya pilar-pilar atau kolom berjajar. Ribed/rusuk bangunan dibuat lebih sederhana sebagai pembentuk struktur atap.

Ciri gothic yang dipergunakan tampak pada façade gereja yaitu adanya 3 pintu masuk, 2 menara tinggi, simetri di kiri kanan, dan jendela mawar (rose window) dengan kaca patri. Jendela mawar dibuat ornamen lebih sederhana, lingkaran yang dibagi menjadi 12 segmen kecil seperti jumlah rosul dan 1 yang besar sebagai pusatnya sebagaimana Yesus adalah pusat kehidupan umat. Hal ini menunjukkan aliran neo-gothic.

Gereja Katedral SPMDGK yang dibangun selama delapan bulan pada tahun 1934 memiliki bukaan dengan dimensi yang kecil pada dindingnya dan menghasilkan derajat ketertutupan tinggi yang berimplikasi pada terciptanya suasana sakral pada runag dalamnya. Pada eksterior bangunan masuk banyak menggunakan elemen Eropa (gable, moulding, dormer, menara dll.

Gereja ini tampak simeteris dengan dua menara berbentuk segi empat mengapit kiri kanan pintu masuk. Menara menjulang keatas dengan atap berbentuk limas bersegi banyak. Dibawahnya terdapat tangga menuju tiga pintu masuk yang berbentuk atap melengkung. Dinding diolah dengan deretan oculus dimana pada dindingnya diberi ornament sama dengan ornament yang ada di pintu.

Hampir tiap gereja katedral memiliki bentuk dasar denah yang hampir sama yaitu berbentuk salib, termasuk arsitektur di gereja yang pernah direnovasi pada 27 Juli 2002 ini. Ruang altar menempati bagian atas batang salibnva. Arah bangunan dari persegi panjang diletakkan pada sumbu timur-barat untuk mengurangi terik matahari langsung.

Gereja ljen berukuran cukup besar dengan ketinggian ruang yang sangat mengagumkan dan merupakan salah satu simbol gereja Katolik. Pengaruh material modern seperti baja membuat Gereja ljen terlihat lebih kokoh.

Gereja ini tak hanya gaya Eropa saja diterapkan pada bentuk denahnya, namun material yang digunakan juga didatangkan langsung dari Eropa. Ragam hias Belanda kuno di setiap bangunannya terasa sangat khas. Dua menara tinggi mengapit pintu masuk utama yang berhiaskan salib besar. Di menara sisi kanan, terdapat jam kuno berwarna coklat muda. Untuk masuk Gereja ljen, Anda bisa melalui pintu depan atau pintu belakang lewat jalan di sebelah kiri gereja.

Ketika masuk Gereja Katedral akan terlihat lukisan-lukisan, patung yang sangat cantik. Beberapa patung juga berdiri di beberapa titik ruang gereja. Di belakang gereja berdiri patung Bunda Maria sedang menggendong Yesus Kristus saat masih berusia balita. Patung ini dikelilingi tanaman- tanaman hias dan berbentuk seperti altar. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES