Wisata Derap Nusantara

Jelajahi Wisata Sejarah Kolonial di Bendungan Agroguruh Lampung

Kamis, 09 Mei 2024 - 10:17 | 53.38k
Penjaga tengah memperlihatkan mercu peninggalan Belanda di Bendung Agroguruh. (foto: ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)
Penjaga tengah memperlihatkan mercu peninggalan Belanda di Bendung Agroguruh. (foto: ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)

TIMESINDONESIA, LAMPUNG – Di Sai Bumi Ruwa Jurai, Provinsi Lampung, kepingan sejarah kolonial Belanda masih menghiasi panorama budaya dan alam. Bangunan-bangunan tua, saluran irigasi, dan bendungan yang dibangun pada masa lalu masih tegak berdiri dengan kokoh, menyiratkan masa lalu yang kaya dan berwarna.

Seperti yang terlihat pada Bendungan Agroguruh. Bangunan ini sebuah peninggalan bersejarah era kolonial yang menawarkan pesona yang tak terlupakan.

Terletak sekitar 7 kilometer dari Bandara Radin Inten II Lampung, bendungan ini memancarkan aura kesederhanaan yang memesona. Bangunan utamanya, dengan panjang mencapai 70 meter dan tinggi empat meter, menampilkan arsitektur khas Belanda yang menawan. Sebuah menara menjulang tinggi, dipenuhi dengan tulisan tahun 1935, mengisyaratkan kemegahan masa lampau.

Bendungan-Agroguruh-2.jpgAlat pemecah batu buatan Inggris yang digunakan untuk membangun Bendung Agroguruh zaman kolonial Belanda. (foto: ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)

Penjaga Bendung Agroguruh dari Dinas Pengairan Kabupaten Lampung Tengah, Erik Yipito, mengatakan bahwa bendung tersebut kini terdiri dari 13 pintu air yang berfungsi mengatur debit muka air. 

Di zaman kolonial, Bendung Agroguruh hanya memiliki tiga pintu air yang semua terbuat dari kayu, karena bendung tersebut saat pembuatannya dilakukan secara manual menggunakan cangkul dan peralatan sederhana.

Bendungan ini bukan hanya sekadar struktur fisik, tapi juga sebuah karya seni yang menggambarkan kehidupan dan sejarah di baliknya. Bangunan kantor pengairan tempo dulu, dengan ventilasi besar yang menangkap udara tropis, memberikan gambaran tentang kehidupan di masa kolonial.

Di sekitar area bendungan, kita dapat menemukan artefak sejarah yang mengangkat cerita masa lalu. Sebuah alat pemecah batu tua, buatan perusahaan Inggris H.R Marsden Ltd., menawarkan sentuhan magis dari zaman yang telah berlalu.

Namun, bendungan ini juga menyimpan cerita perjuangan. Dibangun mulai tahun 1930 dan selesai pada 1935, proyek pembangunan Bendung Agroguruh sempat terhenti akibat perang dunia. Namun, semangat untuk membangun kembali tidak pernah padam. Proyek tersebut dilanjutkan pada 1953-1963, menghadirkan sebuah keajaiban teknologi dan ketahanan.

Hingga hari ini, Bendungan Agroguruh menjadi saksi bisu dari perjalanan waktu. Dengan perbaikan dan pemeliharaan yang teratur, bendungan ini tidak hanya menjadi sumber pengairan bagi pertanian, tapi juga menyediakan air baku bagi kota-kota di sekitarnya.

Tidak hanya Bendungan Agroguruh, Provinsi Lampung juga dipenuhi dengan sistem irigasi dan bendungan lain yang menawarkan kekayaan sejarah yang tak ternilai harganya. Adapula irigasi peninggalan Belanda lain yang dibangun di tahun yang hampir bersamaan yakni di 1926. Sistem irigasi ini memanfaatkan aliran air dari Way Tebu di Kabupaten Tanggamus menuju Kabupaten Pringsewu dan membentuk Way Tebu Sistem.

Bendungan-Agroguruh-3.jpgBangunan Fedder Canal I di Bendung Agroguruh peninggalan zaman kolonial Belanda. (foto: ANTARA/Ruth Intan Sozometa Kanafi)

Seperti diketahui, Daerah Irigasi Way Tebu Sistem terbagi menjadi empat yaitu Irigasi Way Tebu I dan Way Tebu II dibangun sejak 1926, kemudian pembangunan Way Tebu III di 1927 dan Way Tebu IV dibangun pada 1938. 

Dengan upaya revitalisasi yang terus dilakukan oleh pemerintah, Provinsi Lampung berpotensi menjadi daerah yang tahan terhadap krisis air. Dengan sistem irigasi yang kokoh dan efisien, diharapkan Lampung dapat terus menjadi lumbung pangan nasional, menjaga tradisi pertanian yang telah berlangsung selama berabad-abad. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES