Wisata

Wisatawan Inggris Tertarik dengan Kemistisan Banyuwangi

Selasa, 09 Juli 2024 - 11:33 | 13.92k
Rombongan mahasiswa dari Liverpool John Moores University Inggris sedang dijelaskan tentang jamasan di halaman Museum Blambangan. (FOTO: Vira Irawati/TIMES Indonesia)
Rombongan mahasiswa dari Liverpool John Moores University Inggris sedang dijelaskan tentang jamasan di halaman Museum Blambangan. (FOTO: Vira Irawati/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Selain terkenal akan pesona alam indahnya yang menjadi magnet bagi wisatawan berkunjung. Sisi mistis Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur sendiri juga tak kalah menarik untuk diulik hingga mampu membuat penasaran para turis mancanegara.

Mistis selalu identik dengan hal yang menakutkan. Namun berbeda dengan rombongan mahasiswa dari Liverpool John Moores University Inggris. Mereka beranggapan kemistisan tidak selalu merujuk pada hal yang menyeramkan, tetapi  juga sebuah daya tarik sendiri bagi mereka untuk bisa dipahami dari segi kebudayaan. 

Bertepatan Bulan Suro, sebanyak 12 Mahasiswa asing tersebut berkunjung ke Museum Blambangan dan tertarik pada kegiatan jamasan benda pusaka yaitu keris hingga sesaji yang ditata rapi sekaligus melihat jelas prosesi ritual jamasan di halaman depan Museum pada, Senin (8/7/2024).

Seperti salah satu mahasiswa Liverpool John Moores University asal Amerika bernama Rowin Price yang nampak sangat antusias saat keris-keris pusaka tersebut diberi doa, dimandikan bunga, hingga dikeringkan menggunakan kain.

“Saya tertarik karena Banyuwangi sangat berbeda dari tempat kita berada. Banyuwangi adalah tempat yang sangat mistis bagi kami dan patut untuk dikunjungi” ucap Rowin melalui Suci selaku translator rombongan, Selasa (9/8/2024).

Melihat ritual jamasan tersebut Rowin menerangkan, bahwa Banyuwangi memiliki kisah mistis yang sering terjadi, seperti santet, keris pusaka bergerak, bahkan sesajen yang sering menjadi media ritual. 

Di negaranya sendiri, Rowin menambahkan, untuk hal-hal berbau magic atau magis seperti itu hampir tidak ada. Keanehan tersebutlah yang menjadi ketertarikan tersendiri untuk dapat ditelusuri secara ilmiah serta dilihat dari segi budaya tradisi lokal.

 “disini kita disuguhi dengan sesuatu yang sangat tradisional yang tidak ada di negara kita, pemandangan budaya dan tradisi yang sangat kental,” tuturnya.

Selain melihat prosesi jamasan, para bule mahasiswa tersebut melanjutkan tour mereka masuk dalam Museum Blambangan dan belajar banyak hal mulai dari prasejarah hingga masa kolonial dengan melihat langsung benda peninggalanya.

Setelah dari museum dan berakhir di galery Banyuwangi tempo dulu. bule-bule tersebut diajak ke rumah adat hingga bermain alat musik atau gamelan khas suku Using.

Tentu saja, kemistisan seperti ritual jamasan bukan hanya tentang tradisi yang menyeramkan, namun juga hal yang patut dilestarikan karena merupakan warisan dari leluhur terdahulu. Hal itu juga yang menjadi simbol atau identitas dari sebuah daerah. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Sofyan Saqi Futaki

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES