Ekonomi

Harga Cabai Rawit Meroket, Petani di Banyuwangi Full Senyum

Rabu, 01 November 2023 - 17:00 | 47.38k
Salah satu Petani Cabai Rawit di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Nasopah (60) sedang panen Cabai Rawit. (FOTO : Anggara Cahya/TIMES Indonesia)
Salah satu Petani Cabai Rawit di Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi, Nasopah (60) sedang panen Cabai Rawit. (FOTO : Anggara Cahya/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BANYUWANGI – Petani di Kabupaten paling timur Pulau Jawa girang, saat tersiar kabar harga Cabai yang terus meroket dipasaran beberapa waktu terakhir. 

Senyum sumringah nampak pada salah satu petani asal Desa Kembiritan, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Wiwit Mulyani yang terlihat sedang memanen hasil kebun cabai Rawit diladangnya pada Rabu, (1/11/2023)

“Alhamdulillah ini saya sedang panen Cabai Rawit,” ucap Wiwit saat ditanya.

Dengan dibantu beberapa rekanya, ia nampak riang saat sedang menuai hasil panenan Cabai Rawit di sawah seluas seperempat hektar itu. Pantas saja, naiknya harga cabai Rawit saat ini, Wiwit bisa mendapatkan sekitar Rp3,6 Juta setiap panen dengan menghasilkan sebanyak 60 Kilogram Cabai Rawit diladangnya.

“Panen Cabai Rawit seperti ini setiap sepekan selama umur masih produktif,” tandasnya.

Petani-Cabai-Rawit-2.jpgLadang Cabai Rawit yang sedang panen. (FOTO : Anggara Cahya /TIMES Indonesia)

Ditempat yang sama, petani Cabai Rawit lainya bernama Nasopah, juga nampak menyambut baik harga Cabai rawit yang sedang tinggi, karena dirinya bisa menikmati hasil keuntungan dari jerih payahnya menanam cabai dalam kondisi yang terbilang rumit.

Bagaimana tidak, kondisi rumit yang dijelaskan Nasopah, tidak lain adalah dampak dari terjadinya fenomena El Nino yang berimbas pada kemarau panjang, sehingga suhu yang tinggi dan pasokan kebutuhan air untuk tanaman cabai menjadi berkurang.

“Selain cuaca panas dengan suhu tinggi, kurangnya pasokan air Ini membuat hasil panen cabai rawit menjadi kurang optimal,” katanya.

Kurang maksimalnya panenan Cabai Rawit inilah, masih Nasopah, sehingga membuat stok suplai cabai dari petani menjadi turun dan berdampak kepada mahalnya harga jual Cabai Rawit di pasar. Selain itu, Nasopah merasa, tanaman cabai petani di musim tanam ini juga masih kekurangan pupuk. Meskipun masih mendapatkan jatah dari pupuk bersubsidi, namun jumlahnya masih di bawah kebutuhan.

“Air sulit, pupuk kurang, jadi hasil panenan cabai sebenarnya kurang memuaskan, hingga akhirnya mahal,” tuturnya.

Nasopah mengungkap, saat ini harga Cabai Rawit di tingkat petani sudah menyentuh Rp60.000 per kilogram. Terlebih naiknya harga Cabai Rawit itu tergolong cepat, padahal pada sebulan sebelumnya harga cabai Rawit di petani masih Rp15.000 per kilogram

“Harga Cabai yang naik ini sudah biasa pas menjelang akhir tahun, hanya beda penyebab saja dari tahun sebelumnya,” pungkas wanita 60 tahun itu.

Menilik dari data Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) Jawa Timur, tertanggal 1-11-2023 Harga Cabai Rawit Merah di beberapa Pasar di Banyuwangi mulai turun dan ada pula yang bertahan diharga tinggi. 

Harga Cabai Rawit Merah di Pasar Banyuwangi dan Pasar Blambangan saat ini sama-sama turun diharga Rp54.000 per kilogram. Kemudian harga Cabai rawit di Pasar Genteng sekarang Rp58.000 per kilogram. Sedangkan di Pasar Jajag dan Pasar Rogojampi harga Cabai Rawit bertahan di harga yang tinggi yaitu Rp70.000 dan dan Rp72.000 per kilogram. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Rizal Dani

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES