Entertainment

Film Gadis Kretek dan Komentar Warganet Terhadap Kisah Kretek di Indonesia

Jumat, 17 November 2023 - 09:56 | 142.04k
Dian Sastro sebagai Dasiyah/ Jeng Yah, yang menjadi aktor utama dalam Film 'Gadis Kretek'.    (FOTO: Netflix.id)
Dian Sastro sebagai Dasiyah/ Jeng Yah, yang menjadi aktor utama dalam Film 'Gadis Kretek'. (FOTO: Netflix.id)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – Beberapa hari belakangan, jagat perfilman di Indonesia disuguhkan dengan hadirnya film berjudul ‘Gadis Kretek’ yang ternyata cukup memikat hati para pecinta film. Karya audiovisual tersebut, mengadopsi sebuah novel yang berjudul sama dengan film tersebut karya dari Ratih Kumala.

Dari hasil penulusuran TIMES Indonesia dikutip dari Netflix.com, Serial ‘Gadis Kretek alias Cigarette Girl (Season 1) besutan sutradara Kamila Andini dan Ifa Isfansyah tersebut, berhasil menduduki posisi ke-10 serial Netflix non-bahasa Inggris terpopuler global dalam seminggu belakangan.

Selain itu, serial tersebut telah diputar dan dipertontonkan sebanyak 1,6 juta kali selama periode 6-12 November 2023. Karya tersebut, mendapatkan ulasan dan komentar yang positif. Oleh sebab itu, TIMES Indonesia melakukan riset dengan mewawancara beberapa penonton film tersebut.

“Setelah menonton film tersebut, saya sedikit terbuka terhadap kekuatan industri kretek pada masa lampau di Indonesia. Film tersebut sangat menarik, karena menyajikan suasana yang mencirikan khasnya kehidupan di Indonesia,” tutur @hendryozil kepada TIMES Indonesia saat ditemui disekitaran Jl. Sudirman, Jakarta Pusat, pada, Jumat (17/11/2023).

“Film gadis kretek sebenarnya jadi suguhan yang baru banget buat saya, maksudnya genre filmnya ini kan ‘drama romantis’, tapi berisi banget dari aspek simbolik kehidupan perempuan pada masa itu. Baik etika (tutur bicara dan berpakaian) sampai mengulik sejarah kretek di Indonesia. Karakter dian sastro yang kuat untuk memerankn gadis kretek udah pas banget, selain wajahnya perempuan indonesia banget ya,” ujar @nona_ilkamc saat diwawancara di daerah Tangerang Selatan, (17/11/2023).

“Setelah saya menonton film itu, saya merasa bahwa dampak dari tragedi 65 di kota M yang ada di film itu sangat berdampak buruk bagi masyarakat yang menjadi korban dan juga film itu ga terlalu monoton, karena menyajikan alur cerita yang unik, ga bisa ditebak,” ucap @lutfibaihaqiii saat diwawancarai disekitaran Monumen Nasional, Jakarta, (17/11/2023).

Profil Film ‘Gadis Kretek’

Diketahui, film tersebut mulai dirancang pada awal November 2023, di platform streaming pada perusahaan yang dibangun sejak 26 tahun lalu di Scotts Valley, California itu.

Menilik alur ceritanya, Gadis Kretek menceritakan sejarah kretek di sebuah kota di Indonesia. Cerita ini melibatkan drama persaingan antara pengusaha kretek, serta keterkaitannya dengan tragedi kemanusiaan pada tahun 1965, termasuk peristiwa Gestok dan pemburuan terhadap partai berlogo palu arit.

Para pemerannya terdiri dari Dian Sastrowardoyo sebagai Jeng Yah atau Dasiyah, Ario Bayu sebagai Raya atau Soraya, Arya Saloka sebagai Lebas Abimanyu Soraya, Putri Marino sebagai Arum, selanjutnya Tissa Biani sebagai Rukayah, kemudian Sheila Dara Aisha sebagai Purwati serta berbagai aktor terkenal lainnya.

Serial Gadis Kretek ini berhasil mencapai kesuksesan yang luar biasa. Keberhasilan film ini, tidak hanya berkat kinerja yang apik dari para aktor dan aktrisnya. Namun juga, karena telah ditayangkan perdana di Busan International Film Festival (BIFF) 2023 pada bulan Oktober lalu.

Selain itu, film ini kemudian diluncurkan di Netflix pada, Kamis (2/11/2023) dan menjadi serial orisinal pertama dari Indonesia di perusahaan yang dibangun oleh Reed Hastings dan Marc Randolph tersebut.

Film tersebut mengangkat tema romantis dan percintaan yang sangat terasa di benak para penontonnya. Hal itu disebabkan karena film yang diperankan oleh Dian Sastro itu tidak hanya memperlihatkan jalinan kasih antara dua orang, namun juga konflik keluarga serta persaingan yang terjadi di industri kretek.

Dari hasil riset TIMES Indonesia, tayangan Gadis Kretek memakai latar waktu masa lampau dan bernuansa tahun 1960-an dan 2001. Di samping itu, cerita serial ini juga menggambarkan bagaimana sejarah perjuangan para pengusaha kretek yang penuh dengan dinamika persaingan, intrik, dan perjuangan berdarah-darah, sejak awal kemerdekaan Indonesia.

Dikisahkan melalui aktor utamanya, film ini menceritakan bagaimana mereka berupaya dengan penuh cinta dan dedikasi tinggi dalam meracik formula saus kretek. Sebagaimana Filosofi Kopi (2015), menghasilkan rasa hormat dari para penggemar kopi terhadap sajian kopi yang mereka nikmati. Sama halnya dengan Gadis Kretek, yang juga mampu menciptakan penghargaan dari penikmat rokok terhadap apa yang mereka hisap sepanjang waktu.

Sebagai Informasi, bahwa film Gadis Kretek mendapat tanggapan yang positif dengan rating 9.2 dari 10 bintang. Film ini memadukan genre Drama, Sejarah, dan Romansa. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Ferry Agusta Satrio
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES