Indonesia Positif

Kongres Ikatan Alumni ITB Jatim Soroti Hilirisasi Sektor Bahan Baku Industri

Minggu, 28 Januari 2024 - 12:40 | 79.17k
Anggota Ikatan Alumni ITB Pengda Jatim saat acara Kongres Daerah VI dan Diskusi Kebangsaan di Surabaya. (Foto: Dok.IA ITB Jatim)
Anggota Ikatan Alumni ITB Pengda Jatim saat acara Kongres Daerah VI dan Diskusi Kebangsaan di Surabaya. (Foto: Dok.IA ITB Jatim)

TIMESINDONESIA, SURABAYAIkatan Alumni ITB (Insitut Teknologi Bandung) Pengurus Daerah (Pengda) Jawa Timur (Jatim) menggelar Kongres Daerah VI dan Diskusi Kebangsaan di Surabaya.

Diskusi tersebut mengusung tema "Optimalisasi Nilai Tambah Industri Berbasis SDA (Sumber Daya Alam) Ektraktif berupa Energi, Migas dan Mineral Batubara sebagai Lokomotif Ekonomi Bangsa dalam Mencapai Indonesia Emas 2045."

Tema ini diambil mengingat Indonesia memiliki keunggulan komparatif berupa sumber daya alam bersifat ekstraktif. Sumber daya ini sejak kemerdekaan menjadi salah satu soko guru perekonomian nasional. 

"Namun sayangnya, hal itu tidak dibarengi dengan pengembangan teknologi yang mendorong lahirnya industri-industri turunan bernilai tambah," terang Ahmad Bismillahi Normansyah, Ketua IA ITB Jawa Timur yang baru saja dilantik, Minggu (28/1/2024).

Pria yang lekat disapa Gus Bisma ini menegaskan, bahwa hal ini membuat posisi Indonesia stagnan selama beberapa dekade hanya sebagai penghasil bahan baku mentah (raw material) sehingga pada akhirnya membuat negara-negara berbasis industri seperti di Eropa, Amerika, China merasa nyaman karena suplai bahan baku yang nyaris tidak terganggu. 

Karena Indonesia sebagai negara penghasil tidak terlihat mendorong industrialisasi secara serius yang memanfaatkan bahan baku dimaksud.

Geliat hilirisasi bahan baku alam ekstraktif baru digencarkan dalam satu dekade terakhir khususnya untuk komoditas mineral batubara sejak terbitnya UU No 4 Tahun 2009 terkait Mineral dan Batubara yang mulai memerintahkan adanya hilirisasi. 

Berbicara energi, Indonesia memiliki cadangan batubara yang masih bisa digunakan hingga 250 tahun ke depan.

"Selain itu, kita juga memiliki cadangan gas bumi salah satu terbesar di dunia yang belum terutilisasi dengan maksimal akibat industri yang akan mengonsumsi sumber energi ini belum well established," tandasnya.

Belum lagi berbicara potensi renewable energy yang sangat luar biasa di sektor panas bumi, surya, air serta bayu. 

Maka dari itu, entitas para kaum cerdik cendekia yang memiliki pengetahuan dan skill di sektor ini harus terus mendorong percepatan hilirisasi dan industrialisasi berbasis sumberdaya alam ekstraktif utamanya industri manufaktur (penghasil end product) agar nilai tambahnya bisa dirasakan maksimal oleh Bangsa Indonesia.

Per hari ini, komposisi Produk Domestik Bruto kita (PDB) masih didominasi sektor konsumsi sebesar kurang lebih 60 persen dan sisanya baru ditopang oleh sektor produksi. 

"Dan hal ini yang menjadi pekerjaan rumah kita bersama untuk menggeser atau shifting menjadi sektor produksi yang dominan dalam PDB kita," sambung Gus Bisma.

Lain lagi persoalan kejaran Indonesia Emas 2045 yang mensyaratkan PDB/kapita USD30000 dan hari ini kita masih berkisar di angka USD5000/kapita.

Hal inilah yang menjadi pekerjaan rumah para kaum cerdik cendekia termasuk di dalamnya Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung untuk merumuskan dan bersama-sama para pengambil kebijakan melaksanakan strategi dan perencanaan yang telah disusun agar tercapai sebagaimana mimpi yang telah digoreskan. 

Selain itu, isu lingkungan tidak kalah pentingnya sehingga pembangunan harus
berkelanjutan, lahan-lahan eks tambang perlu direhabilitasi melalui program reklamasi dan pasca tambang sehingga konflik antara perilaku kaitannya dengan kebutuhan sehari-hari dapat ditengahi dengan program ini.

Gus Bisma menjelaskan, Alumni ITB menjaga silaturrahmi yang erat melalui Ikatan Alumni Institut Teknologi Bandung (IA-ITB). 

IA-ITB berperan dalam menjembatani alumni satu dengan yang lain serta dengan pihak luar ITB, untuk menghasilkan dampak yang bermanfaat bagi lingkungan dan masyarakat. 

Ikatan Alumni ITB Jawa Timur merupakan sebuah komunitas yang terdiri dari para komunitas alumni dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yang berasal, berdomisili maupun bekerja di daerah Provinsi Jawa Timur. 

Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan wadah kepada alumni dan masyarakat umum, khususnya di Jawa Timur, agar dapat berpartisipasi dalam membangun pemahaman yang lebih baik mengenai isu-isu kebangsaan yang sedang berkembang. 

Serta bersamaan dengan perhelatan Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia 2024-2029 pada 14 Februari 2024 yang akan datang, IA ITB khususnya Pengurus Daerah Jawa Timur ingin memberikan sumbangsih pemikiran untuk perbaikan bangsa ke depan ke semua capres dan cawapres yang ada.

"Sehingga kami harapkan kehadiran baik fisik ataupun secara daring para capres dan cawapres tersebut untuk bersama- sama IA ITB Jawa Timur memformulasikan gagasan agar kita benar-benar bisa meraih Indonesia Emas 2045 sebagaimana yang telah dicita-citakan," tutur Gus Bisma.

Ikatan Alumni ITB Jawa Timur memiliki potensi besar dalam berbagai bidang profesi, dan kegiatan ini diinisiasi untuk memperkuat hubungan komunitas serta memberikan wadah bagi anggota untuk terus berkembang. 

Gus Bisma berharap diskusi ini dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dan mendorong pertukaran gagasan dan pengalaman di antara alumni, pengambil kebijakan serta masyarakat Indonesia. 

Partisipasi ini tidak hanya memperkuat rasa kebersamaan, tetapi juga memberikan kesempatan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman. 

"Selain hal tersebut, rencana gagasan selanjutnya adalah Ikatan Alumni ITB Jawa Timur memberikan pelatihan bagi Gen Z dan Alpha di Jawa Timur termasuk para santri tentunya dalam mengenal pengelolaan energi, minyak gas bumi dan mineral batubara yang berkelanjutan," katanya.(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Deasy Mayasari
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES