Kesehatan

Wanita di Bawah Usia 40 Tahun Dianjurkan untuk Mammografi Jika Memiliki Faktor Risiko Kanker Payudara

Minggu, 22 Oktober 2023 - 06:07 | 37.60k
Pakar onkologi dari Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia Dr dr Samuel Haryono, SpB (K) Onk dalam peluncuran MammoReady oleh NalaGenetics di Jakarta, Sabtu (21/10/2023). (FOTO: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa/am.)
Pakar onkologi dari Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia Dr dr Samuel Haryono, SpB (K) Onk dalam peluncuran MammoReady oleh NalaGenetics di Jakarta, Sabtu (21/10/2023). (FOTO: ANTARA/Lia Wanadriani Santosa/am.)

TIMESINDONESIA, JAKARTA – style="margin-left:0; margin-right:0">Dr. dr. Samuel Haryono, SpB (K) Onk, seorang pakar onkologi dari Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia, menekankan bahwa wanita di bawah usia 40 tahun sebenarnya dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan mammografi jika mereka memiliki faktor risiko kanker payudara.

Mammografi dalam arti skrining. Banyak yang takut. "Kita sepakati 40 tahun, lebih muda dari Eropa. Bisa lebih muda, 26 tahun, bisa dilihat faktor risiko," kata Samuel di Jakarta, Sabtu (21/10/2023).

Mammografi adalah pemeriksaan radiologi yang bertujuan untuk mendeteksi adanya kelainan yang dapat mengarah pada kanker di payudara. Prosedur ini melibatkan penggunaan sinar X atau foto X-ray untuk mendapatkan gambaran internal payudara.

Menurut Samuel, wanita dapat mempertimbangkan menjalani mammografi mulai usia 25 tahun jika mereka memiliki faktor risiko kanker payudara, termasuk riwayat keluarga yang memiliki riwayat kanker tersebut.

Selain riwayat keluarga, ada beberapa faktor risiko kanker payudara lainnya, seperti merokok atau terpapar asap rokok (perokok pasif), pola makan buruk yang tinggi lemak dan rendah serat, serta konsumsi makanan yang mengandung zat pengawet atau pewarna.

Faktor risiko lainnya termasuk mengalami menstruasi pertama pada usia kurang dari 12 tahun, menopause setelah usia 50 tahun, melahirkan anak pertama setelah usia 35 tahun, tidak pernah menyusui anak, dan mengalami operasi payudara yang disebabkan oleh kelainan tumor baik jinak maupun ganas.

Samuel juga menyarankan agar perempuan melakukan pemeriksaan payudara sendiri atau SADARI secara rutin, bersama dengan pemeriksaan payudara klinis atau SADANIS, sebagai upaya untuk mendeteksi dini kanker payudara.

"Perlu meningkatkan kesadaran akan SADARI dan SADANIS. Selain itu, mammografi juga telah terbukti dapat mengurangi angka kematian akibat kanker payudara," kata Samuel.

Menurut data Kementerian Kesehatan, kanker payudara menduduki peringkat pertama dalam jumlah kasus kanker terbanyak di Indonesia dan merupakan penyebab utama kematian akibat kanker. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES