Kopi TIMES

Merah Kuning Hijau Menyambut Pemimpin Baru

Senin, 06 November 2023 - 12:48 | 37.13k
Ahmad Dwi Bayu Saputro (Kandidat Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)
Ahmad Dwi Bayu Saputro (Kandidat Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

TIMESINDONESIA, YOGYAKARTA – Sewaktu masih kecil, saya masih ingat bahwa hanya ada tiga partai di negeri ini. Partai tersebut berwarna merah, kuning dan hijau. Mirip seperti lampu pengatur lalu lintas di tepi jalan raya. 

Partai yang berwarna merah adalah PDI. Sedangkan yang berwarna kuning adalah Golkar. Sementara yang berwarna hijau adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP). 

Partai yang berwarna merah dalam bahasa Jawa disebut dengan partai abangan. Golongan atau pendukung partai ini biasanya kaum pedagang, petani, nelayan, kuli bangunan dan lain sebagainya. Pada intinya pendukung partai ini biasanya kaum menengah ke bawah. 

Partai yang berwarna kuning dalam bahasa Jawa disebut dengan istilah kaum priyayi. Golongan ini biasanya didominasi oleh kaum yang bermitra dengan pemerintah. Misalnya, para guru, dosen, raja keraton, PNS dan lain sebagainya. 

Sementara partai yang berwarna hijau dalam bahasa Jawa biasa disebut kaum santri. Partai ini biasanya didukung oleh para ulama, ustadz, kyai dan santri. 

Seiring perkembangan zaman, kaum abangan, priyayi dan santri akhirnya bertambah banyak. Kaum merah masih tetap yaitu PDI-P. Partai yang dulu dimotori oleh Bung Karno, kini dinahkodai oleh anaknya yakni Megawati Soekarno Putri. 

Kaum kuning akhirnya pecah menjadi banyak partai. SBY mendirikan Demokrat, Prabowo mendirikan Gerindra, Wiranto mendirikan Hanura dan lain sebagainya. 

Sementara kaum santri juga pecah menjadi beragam partai. Orang- orang NU mendirikan PKB dan juga PPP tentunya. Orang Muhammadiyah mendirikan Partai Amanat Nasional (PAN). Terakhir, kaum Wahabi mendirikan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). 

Terlepas dari semua itu, menarik untuk memperhatikan bursa capres dan cawapres di tahun depan. Ketiga kandidat sudah mewakili semuanya. Anis dan Cak Imin ibarat mewakili kaum hijau. Ganjar dan Mahfud ibarat mewakili kaum merah. Sementara Prabowo dan Gibran ibarat mewakili kaum kuning. 

Sengaja saya tulis kata "ibarat" karena semuanya belum tentu benar. Misalnya, PPP yang sejatinya mewakili kaum santri ternyata bergabung dengan Ganjar, yang bagi saya adalah komunitasnya partai yang berwarna merah. PAN yang mewakili kaum santri juga ternyata berkoalisi dengan kaum priyayi yang berwarna kuning. 

Siapa yang akan menjadi presiden di tahun depan? Bila melihat berbagai lembaga survei, nama Prabowo dan Ganjar selalu beriringan. Sementara nama Anies cenderung selalu berada di bagian bawah. Tapi, itu hanyalah sebuah prediksi survei belaka. Pada kenyataannya nanti waktulah yang akan menjawabnya. 

Dari ketiga calon tersebut sesungguhnya saya akan mengatakan bahwa pemilu di tahun depan terasa seperti lampu di tepi jalan. Merah, kuning dan hijau. Semuanya lengkap. 

Ini berbeda dengan tahun 2014 dan 2019 yang hanya dua calon. Prabowo kalah dengan Jokowi pada tahun 2014. Lebih dari itu, ia juga maju pada tahun 2019 dan ternyata juga kalah. 

Umpama Prabowo menang, maka yang kalah ada dua kubu yakni Ganjar dan Anies. Yang satu menang dan menjadi presiden, sementara yang lainnya kalah. Kedua yang kalah tersebut mungkin menderita, namun masih ada temannya. Umpama bersedih, mungkin kesedihannya akan cepat usai karena ada temannya. 

Selamat ber kontestasi di ajang Pemilu di tahun 2024. Harapan saya semoga pemilu ini damai. Siapa yang menang harus bersyukur. Sementara yang kalah harus siap ikhlas menerimanya. Semoga bermanfaat. 

***

*) Oleh : Ahmad Dwi Bayu Saputro (Kandidat Doktor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

*) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

*) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

*) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Rochmat Shobirin

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES