Kopi TIMES

Muslimat NU, Sang Penguat Indonesia Emas 2045

Sabtu, 20 Januari 2024 - 09:14 | 25.46k
Lia istifhama.
Lia istifhama.

TIMESINDONESIA, SIDOARJO – Di tengah kanvas sejarah yang penuh warna, ada benang merah yang terus terjalin, membentuk narasi kekuatan perempuan Indonesia. Narasi ini, dengan segala kelembutannya, mengalir kuat dalam darah sejarah bangsa. Khususnya melalui peran Muslimat Nahdlatul Ulama (NU).

Saat kita memperingati Harlah ke-78 Muslimat NU, kita diajak untuk merenung. Merenungkan bagaimana gerakan ini tidak hanya menjadi simbol kekuatan spiritual, tetapi juga pilar sosial-politik yang kokoh.

Kekuatan Perempuan Indonesia yang Nyata

Tak dapat dipungkiri, kehadiran Muslimat NU di panggung sejarah Indonesia bukanlah sekadar catatan kaki. Mereka adalah penulis utama dalam narasi kekuatan perempuan di negeri ini.

Lia-Istifhama.jpg

Sebagaimana kata Khofifah Indar Parawansa, Ketua Umum Muslimat NU, “Kekuatan perempuan bukan hanya diukur dari kelembutan hatinya, tapi juga dari keteguhan prinsip dan aksinya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.”

Kekuatan ini tercermin dari berbagai peran yang telah dan sedang dijalankan Muslimat NU. Dari sudut pendidikan, mereka telah membangun generasi muda yang berilmu dan berakhlak mulia. Dari aspek sosial, Muslimat NU menjadi tangan yang mengulurkan pertolongan pada yang membutuhkan. Juga menjadi suara bagi yang terpinggirkan.

Namun, kekuatan ini tidak hanya berhenti pada dimensi spiritual dan sosial. Pada panggung politik Indonesia, Muslimat NU telah membuktikan diri sebagai kekuatan signifikan. Seperti yang dilaporkan Bloomberg, Khofifah Indar Parawansa dianggap sebagai sosok penentu dalam kemenangan calon presiden pada Pilpres Indonesia.

Ini menegaskan bahwa Muslimat NU bukan hanya berperan dalam meningkatkan kesejahteraan sosial, tetapi juga memiliki pengaruh politik yang signifikan.

Di tengah perjalanan panjang dan penuh tantangan, Muslimat NU terus mengukir jejak yang tidak terhapuskan. Mereka menjadi simbol perempuan yang tidak hanya kuat secara internal, tapi juga mampu memberikan dampak besar pada masyarakat luas. Dalam konteks yang lebih luas, Muslimat NU mengajarkan kita semua, bahwa kekuatan perempuan tidak hanya terletak pada perannya di dalam rumah, tetapi juga pada perannya di tengah-tengah masyarakat dan bahkan pada skema politik nasional.

Seperti kata seorang filosof perempuan modern, “Kekuatan perempuan bukanlah hal yang harus dipertanyakan, tetapi yang harus dirayakan.” Dan Muslimat NU, dengan segala kontribusinya, telah memperlihatkan bahwa perayaan tersebut tidak hanya berupa kata-kata. Namun juga aksi nyata yang telah membentuk dan terus membentuk masa depan Indonesia.

Kita tidak bisa mengabaikan fakta bahwa Muslimat NU telah menjadi bagian penting dari dinamika sosial-politik di Indonesia. Mereka telah mengambil peran yang tidak hanya sebagai pendukung, tetapi juga sebagai pemimpin dalam berbagai aspek kehidupan. Dengan demikian, mereka telah menjadi salah satu kekuatan pendorong bagi kemajuan Indonesia.

Dalam refleksi Harlah ke-78 ini, mari kita menghargai dan menghormati kontribusi Muslimat NU. Mereka bukan hanya bagian dari sejarah, tetapi juga arsitek masa depan. 

Dalam diri mereka, terpatri semangat kekuatan perempuan yang tak tergoyahkan. Sebuah semangat yang terus memperkaya dan memperkuat Indonesia Maju dan Hebat.

Di saat kita melangkah maju, membuka babak baru dalam sejarah, mari kita ingat bahwa kekuatan perempuan, yang tercermin dalam peran Muslimat NU, adalah salah satu pilar utama yang membuat bangsa ini kokoh. Mereka adalah bukti nyata bahwa kelembutan dan kekuatan bisa berjalan beriringan, menciptakan harmoni yang membuat Indonesia tidak hanya besar, tapi juga hebat dan bermartabat.

Muslimat NU dan Pondasi Demokrasi

Saat melihat lebih dalam, kita temukan bahwa Muslimat NU tidak hanya berperan sebagai penguat dalam konteks domestik. Mereka juga berkontribusi dalam memperkuat fondasi demokrasi dan pluralisme di Indonesia.

Lia-Istifhama-2.jpg

Sebagai bagian dari organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, Muslimat NU menunjukkan bagaimana perempuan dapat aktif berpartisipasi dalam dialog-dialog kebangsaan dan memainkan peran penting dalam menjaga keharmonisan sosial.

Melalui program-program pendidikan dan pemberdayaan, Muslimat NU telah membuka jalan bagi perempuan untuk lebih mandiri, berpendidikan, dan berdaya. Inisiatif-inisiatif seperti sekolah perempuan dan pelatihan kewirausahaan adalah contoh konkret bagaimana mereka memperkuat peran perempuan di masyarakat. Ini adalah langkah vital dalam menciptakan kesetaraan gender dan membuka lebih banyak peluang bagi perempuan untuk berkontribusi dalam pembangunan nasional.

Lebih jauh lagi, Muslimat NU telah memainkan peran kunci dalam mengadvokasi kebijakan-kebijakan yang pro-perempuan. Mereka tidak hanya menjadi suara bagi perempuan, tetapi juga memastikan bahwa suara itu didengar di tingkat kebijakan. Ini menunjukkan bagaimana perempuan, melalui organisasi seperti Muslimat NU, dapat mempengaruhi arah kebijakan publik dan membawa perubahan sosial yang signifikan.

Di sisi lain, kita juga harus mengakui tantangan yang dihadapi Muslimat NU. Dalam masyarakat yang masih kerap dipengaruhi oleh pandangan patriarki, perjuangan mereka tidak selalu mudah. Namun, dengan kegigihan dan dedikasi, Muslimat NU terus berupaya mengatasi hambatan tersebut, menunjukkan bahwa perempuan memiliki kekuatan dan kapasitas untuk menjadi agen perubahan.

Sebagai penutup, refleksi ini tentang Muslimat NU dan peran mereka di Indonesia bukan hanya sebuah penghormatan kepada mereka yang telah berjuang di masa lalu. Ini adalah sebuah pengakuan atas pekerjaan yang terus mereka lakukan setiap hari.

Dalam setiap langkah yang mereka ambil, dengan setiap kontribusi yang mereka berikan, Muslimat NU tidak hanya memperkuat perempuan, tetapi juga memperkuat bangsa. Mereka adalah simbol bahwa dalam setiap perempuan, ada kekuatan yang dapat mengubah dunia.

Maka, saat kita merayakan Harlah ke-78 Muslimat NU, mari kita tidak hanya memandang mereka sebagai bagian dari sejarah. Mari kita lihat mereka sebagai inspirasi, sebagai kekuatan, sebagai pilar yang akan terus mendukung dan membentuk masa depan Indonesia yang lebih cerah, lebih adil, dan lebih kuat. 

Muslimat NU adalah lebih dari sekadar organisasi; mereka adalah cerminan dari kekuatan perempuan Indonesia, sang penguat Indonesia maju menuju Indonesia Emas 2045. Selamat Harlah ke-78 Muslimat NU. (*)

 

*) Penulis: Lia istifhama

*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggung jawab penulis, tidak menjadi bagian tanggung jawab redaksi timesindonesia.co.id

**) Kopi TIMES atau rubrik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim apabila tidak sesuai dengan kaidah dan filosofi TIMES Indonesia.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES