Kopi TIMES

Restorasi Lahan sebagai Investasi Masa Depan: Ekonomi dan Manfaat Ekologis

Minggu, 23 Juni 2024 - 09:38 | 13.01k
Rahmi Awallina, S.TP., MP., Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas
Rahmi Awallina, S.TP., MP., Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas

TIMESINDONESIA, PADANG – Di antara banyak tindakan destruktif yang dilakukan manusia terhadap bumi, deforestasi adalah salah satu yang paling merusak, berdampak buruk pada keamanan pangan, iklim, dan keanekaragaman hayati. Peristiwa ini sering kali dipicu oleh praktik pembakaran hutan untuk membersihkan lahan, dengan estimasi kasar bahwa sekitar 2% permukaan bumi terbakar setiap tahunnya. Namun, kebakaran hanya satu bagian dari masalah ini. 

Hasrat manusia yang tak pernah terpuaskan untuk meraup keuntungan melalui ekstraksi sumber daya melalui deforestasi dan penggangguan ritme alam semakin cepat. Dalam satu abad terakhir, kita telah kehilangan hutan dalam jumlah yang sama besarnya dengan yang hilang selama 9.000 tahun sebelumnya, mengakibatkan hilangnya manfaat yang penting dari hutan di bumi. Kita semua memiliki andil dalam hal ini.

Dari masa masyarakat agraris hingga era kolonialisasi, hingga ke kondisi bahaya akibat konsumsi berlebihan saat ini, kita semua berperan dalam degradasi ekosistem. Ironisnya, hanya segelintir dari kita yang terlibat dalam upaya restorasi. Konflik antara pencarian keuntungan, pengelolaan lahan berkelanjutan, dan konservasi telah lama tercatat dalam literatur ilmiah selama berabad-abad dan literatur klasik selama ribuan tahun. Sejak kehancuran ekonomi Mycenae di Yunani kuno hingga laju penghancuran Amazon di Brasil saat ini, deforestasi dan degradasi lahan adalah pertempuran yang tiada henti.

Meski berbagai peringatan dari ilmuwan telah dikumandangkan, bumi kita sekarang berada di ambang krisis perubahan iklim. Gletser yang runtuh dan mencair ke laut akibat pemanasan global yang dipicu oleh emisi bahan bakar fosil dan diperparah oleh perusakan hutan tropis kita menunjukkan betapa seriusnya situasi ini. Bukan hanya hutan tropis yang terkena dampak. Padang rumput alami juga menghilang. Model prediktif menunjukkan bahwa setelah permafrost di wilayah boreal utara mencair, kapasitas penyerapan karbon lahan gambut akan menurun akibat pemanasan global pasca-2050 dalam skenario kenaikan suhu tinggi, karena tanah makin terdegradasi.

Dalam upaya membalikkan kerusakan ini, para ilmuwan, petani, rimbawan, dan pihak terkait lainnya kini menghadapi tugas monumental yakni kewajiban untuk merestorasi jutaan hektare lahan. Tugas kita dalam memulihkan alam adalah monumental, namun tidak mustahil itu bisa dilakukan. 

Sepanjang sejarah, kita telah menyaksikan bagaimana kelompok masyarakat dengan kekuatan ekonomi menjaga kepentingan mereka dengan cara menindas, mengeksploitasi, dan menganiaya mereka yang berupaya mempertahankan lahan dan penghidupan mereka. Namun, di sisi lain, kita juga melihat adanya upaya kolaboratif untuk menerapkan intensifikasi berkelanjutan melalui praktik pertanian dan kehutanan baik dalam upaya konservasi ekosistem di lanskap pertanian.

Salah satu upaya yang bisa dilakukan sekarang, kita perlu menghentikan konflik dan mengembangkan usaha bersama untuk restorasi lahan. Setiap tahun, degradasi lahan mengakibatkan kerugian sebesar 6,3 triliun dolar AS. Namun, keuntungan bersih dari inisiatif restorasi lahan seperti Tantangan Bonn dapat mencapai antara 7 hingga 9 triliun dolar AS per tahun. Setiap dolar yang diinvestasikan dalam restorasi berpotensi memberikan pengembalian sebesar 7 hingga 30 dolar AS.

Laporan terbaru dari PBL Netherlands Environmental Assessment Agency menunjukkan bahwa banyak negara telah berkomitmen untuk merestorasi hampir satu miliar hektare lahan-luas yang setara dengan Kanada-melalui inisiatif seperti Tantangan Bonn. Setengah dari komitmen ini berada di kawasan sub-Sahara Afrika.

Dengan peluncuran Dekade Restorasi Ekosistem PBB 2021-2030 pekan ini, diharapkan pemerintah akan mengadopsi kebijakan dan praktik yang mendasari desain program restorasi. Inisiatif ini berpotensi memperkuat kembali kesehatan ekologi di wilayah-wilayah yang terdegradasi, sambil memberikan manfaat sosio-ekonomi yang beragam.

Dari catatan  Organisasi Pangan dan Pertanian PBB memperkirakan bahwa sepertiga dari populasi dunia sangat bergantung pada hutan dan produknya, banyak produk pangan global juga sangat mengandalkan jasa ekosistem seperti air bersih, penyerbukan, dan pengaturan iklim lokal.

Tanggung jawab untuk merestorasi lanskap secara besar-besaran berada di tangan pihak berwenang. Sementara beberapa negara dan korporasi masih setengah hati, waktu untuk eksperimen sudah lama berlalu. Kini adalah saatnya untuk berkomitmen pada langkah-langkah jangka panjang yang serius.

Jika kita tidak mengambil tindakan yang lebih strategis, degradasi lahan akan terus memburuk dan menjadi beban yang semakin berat. Penyebab utama degradasi, seperti ekspansi cepat dan pengelolaan tanaman yang tidak berkelanjutan, serta perluasan lahan gembala, masih mengakibatkan hilangnya keanekaragaman hayati, jasa ekosistem, dan mempengaruhi suplai air serta keamanan pangan. Kita perlu mengatasi akar penyebab degradasi ini, karena respon setengah hati atau penundaan hanya akan menyebabkan lahan terus terdegradasi.

Restorasi adalah keharusan, tetapi harus dilakukan dengan strategi yang tepat. Wilayah tanpa pohon tidak selalu berarti terdegradasi. Padang rumput, lahan gambut, dan ekosistem non-hutan lainnya memberikan jasa yang bernilai dan membutuhkan pendekatan unik untuk menjaga ketahanannya. Selain itu, menanam dan merawat pohon dengan biji dan tujuan yang tepat, serta melibatkan komunitas lokal, sangat penting di banyak daerah. Seringkali, membiarkan alam bekerja melalui regenerasi alami adalah langkah terbaik.

Namun, situasi ini belum sepenuhnya suram. Restorasi lahan dapat menghasilkan berbagai manfaat, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan nutrisi dan pendapatan. Kunci keberhasilan adalah menggunakan pendekatan holistik dan berbasis alam yang menangani tantangan ketidaksetaraan, hilangnya keanekaragaman hayati, perubahan iklim, dan rantai pasok yang tidak berkelanjutan.

Restorasi lahan tidak hanya menawarkan manfaat lingkungan, tetapi juga memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat, termasuk penciptaan lapangan kerja, peningkatan nutrisi, dan pendapatan. Untuk mencapai hasil yang berkelanjutan dan komprehensif, pendekatan restorasi harus bersifat holistik dan berbasis alam, dengan fokus pada penanganan ketidaksetaraan sosial, pemulihan keanekaragaman hayati, mitigasi perubahan iklim, serta perbaikan rantai pasok yang berkelanjutan.

***

*) Oleh : Rahmi Awallina, S.TP., MP., Dosen Departemen Teknik Pertanian dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Andalas.

*)Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id

 

____________
**) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.

**) Naskah dikirim ke alamat e-mail: [email protected]

**) Redaksi berhak tidak menayangkan opini yang dikirim.

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Hainorrahman
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES