Peristiwa Daerah

Harlah Ke-101 NU di Kota Magelang, Begini Pesan Katib Aam PBNU KH. Akhmad Said Asrori

Sabtu, 03 Februari 2024 - 21:44 | 24.51k
Katib Aam PBNU, KH Akhmad Said Asrori (berbaju putih) berfoto bersama Ketua PCNU, K. Achmad Rifa’i (kiri) dan Rois Suriah, K. Ahmad Zainudin BK. (FOTO; Hermanto/ Times Indonesia)
Katib Aam PBNU, KH Akhmad Said Asrori (berbaju putih) berfoto bersama Ketua PCNU, K. Achmad Rifa’i (kiri) dan Rois Suriah, K. Ahmad Zainudin BK. (FOTO; Hermanto/ Times Indonesia)

TIMESINDONESIA, MAGELANG – Dalam rangka memperingati Harlah Ke-101 NU, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Magelang, mengadakan saresehan dengan tema, Kebangsaan Generasi Muda Nahdlatul Ulama Menyukseskan Pemilihan Umum 2024.

Acara Harlah Ke-101 NU yang digelar di Gedung BLK SMK Ma’arif Kota Magelang, Sabtu (3/2/24) itu, dihadiri perwakilan pengurus, Lembaga dan Banom yang ada.

Selain Ketua PCNU, Achmad Rifa’i dan Rois Suriah, Ahmad Zainudin BK, terlihat hadir Katib Aam PBNU, KH Akhmad Said Asrori. Dalam sambutannya, Ahmad Zainudin mengatakan bahwa Harlah Ke-101 NU kali ini bisa dijadikan momentum untuk saling berkoordinasi antar lembaga. 

“Harlah ke- 101 NU bisa akita jadikan renungan. Betapa pentingnya konsolidasi antar Lembaga NU agar memacu kinerja dan target kerja dari AD/RT lebih bagus, lebih bisa mencapai kemanfaatan,” harapnya.

Sedangkan Ketua PCNU Kota Magelang, Achmad Rifa’i. mengutarakan tentang rencana pendirian Madrasah Ibtida’yah (Mi) unggulan. “Peduli pendidikan yang baik bagi generasi awal NU dengan sebuah planning yaitu, mendirikan Madrasah Ibtidaiyah atau MI menjadi lebih unggul dari sekolah yang sudah ada,” ucap Rifa’i. direncanakan, NU Kota Magelang akan membangun Mi unggulan dengan estimasi beaya Rp3,5 Miliar lebih.

Sementara itu, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Akhmad Said Asrori menginformasikan tentang peresmian gedung baru NU 9 lantai oleh Presiden RI. Selain itu ia juga menceritakan tentang, sejarah Penetapan Hari Santri, Undang-Undang Pondok Pesantren, ancaman bahaya Narkoba, program nasional Keluarga Maslahat Nahdhatul Ulama, peningkatan pendidikan anak anak Warga NU dan 9 pedoman berpolitik bagi warga NU.

Harlah-Ke-101-NU-di-Kota-Magelang.jpgPara peserta saresehan berfoto bersama dengan Katib Aam PBNU, KH Akhmad Said Asrori, usai acara  (FOTO; Hermanto/ Times Indonesia)

Lebih jauh, Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang juga asli Magelang itu menekankan tentang pedoman berpolitik bagi warga NU.

“Sekarang adalah tahun politik, kita gunakan dengan sebaik mungkin hak suara kita, jangan sampai ada perbedaan yang menimbulkan perpecahan. Saya akan bacakan sembilan pedoman berpolitik untuk kita, sebagi warga NU,” ucap Said Asrori.

Berikut Sembilan Pedoman Berpolitik Bagi Warga NU, yang Disampaikan oleh KH Akhmad Said Asrori

1. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama mengandung arti keterlibatan warga negara dalam kehidupan berbangsa dan bernegara secara menyeluruh sesuai dengan Pancasila dan UUD1945.  

2. Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah, politik yang berwawasan kebangsaan dan menuju integrasi bangsa dengan langkah-langkah yang senantiasa menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan untuk mencapai cita-cita bersama, yaitu terwujudnya masyarakat adil dan makmur lahir dan batin dan dilakukan sebagai amal ibadah menuju kebahagiaan di dunia dan kehidupan di akhirat.

3. Politik bagi Nahdlatul Ulama adalah pengembangan nilai-nilai kemerdekaan yang hakiki dan demokratis, mendidik kedewasaan bangsa untuk menyadari hak, kewajiban dan tanggung jawab untuk mencapai kemaslahatan bersama. 

4. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan moral, etika dan budaya yang berketuhanan Yang Maha Esa, berperikemanusiaan yang adil dan beradab, menjunjung tinggi persatuan Indonesia, berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.  

5. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama haruslah dilakukan dengan kejujuran nurani dan moral agama, konstitusional, adil sesuai dengan peraturan dan norma-norma yang disepakati, serta dapat mengembangkan mekanisme musyawarah dalam memecahkan masalah bersama. 

6. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama dilakukan untuk memperkokoh konsensus-konsensus nasional, dan dilaksanakan sesuai dengan akhlaqul karimah sebagai pengamalan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah.

 7. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama, dengan dalih apapun tidak boleh dilakukan dengan mengorbankan kepentingan bersama dan memecah belah persatuan. 

8. Perbedaan pandangan di antara aspirasi-aspirasi politik warga Nahdlatul Ulama harus tetap berjalan dalam suasana persaudaraan, tawadhu’ dan saling menghargai satu sama lain, sehingga dalam berpolitik itu tetap dijaga persatuan dan kesatuan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

9. Berpolitik bagi Nahdlatul Ulama menuntut adanya komunikasi kemasyarakatan timbal balik dalam pembangunan nasional untuk menciptakan iklim yang memungkinkan perkembangan organisasi kemasyarakatan yang lebih mandiri dan mampu melaksanakan fungsinya sebagai sarana masyarakat untuk berserikat, menyalurkan aspirasi serta berpartisipasi dalam pembangunan.(*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Faizal R Arief
Publisher : Sholihin Nur

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES