Peristiwa Daerah

Jaranan Kidong Kletuk Menunggu Lirikan Desa Wisata

Jumat, 23 Februari 2024 - 23:06 | 22.15k
Nama kesenian ini Jaranan (Kuda Lumping-red) Kidong Kletuk. Jaranan ini berbeda dengan penampilan Jaranan lainnya. Di Kota Batu pernah berdiri Jaranan Kidong Kletuk ini, namun pendirinya sudah meninggal dunia. (Foto: M. Dhani Rahman/TIMES Indonesia)
Nama kesenian ini Jaranan (Kuda Lumping-red) Kidong Kletuk. Jaranan ini berbeda dengan penampilan Jaranan lainnya. Di Kota Batu pernah berdiri Jaranan Kidong Kletuk ini, namun pendirinya sudah meninggal dunia. (Foto: M. Dhani Rahman/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, BATU – Nama kesenian ini Jaranan (Kuda Lumping) Kidong Kletuk. Jaranan ini bukan sembarang Jaranan, karena memang berbeda dengan penampilan Jaranan lainnya. Di Kota Batu pernah berdiri Jaranan Kidong Kletuk ini, namun itu pun sudah mati. 

Jaranan Kidong Kletuk ini unik, karena musik yang ditampilkan berbeda, ketukkannya lebih sederhana, meskipun alat music yang digunakan sama seperti alat musik Kesenian Jaranan pada umumnya.
Kendati demikian, hentakan music yang khas membuat Kidong Kletuk terlihat unik.

Lebih unik lagi, pakaian yang digunakannya pun berbeda dari kebiasaan. Pemainnya menggunakan baju yang terbuat dari kain goni, mirip pakaian Jepang.

TIMES Indonesia mencoba menelusuri keberadaan Jaranan Kidong Kletuk ini dari sebuah informasi yang menerangkan bahwa kesenian ini pernah hidup di dekat Sumber Air Banyuning, Desa Punten, Kecamatan Bumiaji.

Muncul nama Jumar warga RT 2 Desa Punten sebagai pengasuh Kuda Lumping Kidong Kletuk. Namun sayang ketika sampai di rumahnya, ternyata Jumar sudah meninggal dunia dan seluruh peralatannya sudah diteruskan oleh Ramelan, warga Sukorembug, Sidomulyo.

“Ndak ada orang di rumahnya (Rumah Jumar), kalau rumah anaknya di bawah, tapi kalau jam segini kosong. Kalau seluruh peralatannya semua diteruskan Pak Ramelan. Jaranan itu Jaranan kuno, tabuhannya khas, berbeda dengan tabuhan lainnya,” ujar salah seorang tetangga Jumar.

Jaranan-Kidong-Kletuk.jpg

Selo Aji, sebuah organisasi seni di Kota Batu pernah membuat kegiatan yang diberi nama Sisik Melik Sinau Bareng. Disitu, salah satu satu narasumber kegiatan adalah Ramelan. Ia menceritakan keberadaan Jaranan Kidong Kletuk. 

“Sak niki sampun mboten wonten, kulo wakil sesepuh sampek sak niki, dadi kulo saget bisa memahami, nopo sing dilapampahi dulu (Jaranan Kidong Kletuk saat ini sudah tidak ada lagi, saya bisa memahami apa yang dahulu terjadi),” tutur Ramelan.

Menurutnya, Kuda Lumping Kidong Kletuk ini pernah hidup di Kota Batu saat jaman perang kemerdekaan.

“Pakaiannya tidak seperti sekarang yang modern, dulu pakaiannya menggunakan Celono Kebo, Klambi Kebo lan Iket Kebo (Celana Karung Goni, Baju Karung Goni dan Ikat kepala dari karung Goni,” ujarnya. 

Menurutnya, kesenian ini bukan sekedar kesenian, namun seringkali dimainkan di dekat Tangsi (Markas) tentara Jepang. Ditengah permainan, tiba-tiba ada dua pemain yang menggunakan topeng Glendo Barong (Kepala Naga) beratraksi dengan cara masuk Tangsi.

Sebenarnya hal ini cuman kamuflase untuk mencuri senjata dan peluru Jepang untuk diserahkan kepada tentara. Namun semua kesenian itu hanya tinggal cerita karena sudah punah tidak ada yang meneruskan.

Winarto Ekram, Seniman Tari Kota Batu mengatakan bahwa sebenarnya seluruh daerah di Kota Batu ini memiliki kesenian yang menarik dan harus dilestarikan. Namun sayangnya hingga saat ini sebuah kesenian untuk mendapatkan kesempatan hidup sulit untuk didapatkan. 

“Keberadaan Desa Wisata saja di Kota Batu, masih belum mengakomodir seni budaya. Padahal sebenarnya daya tarik Desa Wisata justru adalah kesenian, namun jarang dilirik,” ujar pengelola Latar Seni Gopit, Desa Pendem, Kecamatan Junrejo ini.

Padahal menurut Winarto, jika Desa Wisata memasukkan kesenian dalam salah satu paket wisatanya. Bukan hanya membuat kesenian ini hidup, namun Desa Wisata juga semakin jaya.

Jaranan-Kidong-Kletuk-3.jpg

“Seandainya di Kota Batu ini satu desa memiliki satu panggung seni dan secara rutin kesenian lokal bisa dimainkan disitu, pasti Desa Wisata akan lebih hidup, kesenian juga hidup,” ujarnya. 

Ketua Fordewi (Forum Desa Wisata) Kota Batu, M Dadi membenarkan bahwa bahasan menarik untuk Kota Batu. Karena selama ini, Desa Wisata di Kota Batu masih bergantung pada Jeep Adventure dan petik buah dan sayur.

“Harusnya ada daya tarik seninya, tidak melulu wisata adventure dan petik. Penting semua desa wisata di Kota Batu menggunakan seni budaya sebagai daya tarik wisatanya,” ujar Dadi.

Menanggapi masalah panggung seni di setiap desa, ia mengatakan butuh keseriusan semua pihak dan pendampingan Pemkot Batu agar panggung seni betul-betul hidup.

Jangan begitu panggung seni terbangun, tidak ada aktivitas apa-apa di situ. “Kalau ada campur tangan Dinas Pariwisata dengan membeli paketan wisata seninya, saya yakin bisa eksis,” ujar Dadi.

Lebih lanjut, Dadi menjelaskan bahwa 24 desa dan kelurahan di Kota Batu semua berpotensi menjadi desa wisata. Ada desa wisata maju yakni Desa Tulungrejo, Desa Sidomulyo dan Desa Pandanrejo. Ada juga Desa Wisata Berkembang yakni Desa Bulukerto, Desa Gunungsari dan Desa Sumberbrantas.

“Ada juga desa yang stagnan, seperti Desa Pendem yang belum menampakkan aktivitas desa wisatanya,” ujarnya. Padahal saat ini menurut Dadi, jumlah kunjungan wisatawan ke Desa Wisata berkisar 300 hingga 400 ribu pertahun. “Dari satu desa wisata, ada yang mencapai pemasukan kotornya kurang lebih Rp 600 juta per tahun,” ujarnya. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Wahyu Nurdiyanto
Publisher : Lucky Setyo Hendrawan

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES