Peristiwa Internasional

Di AICIS 2024, Prof. Kamaruzaman: Dunia Digital Pengaruhi Cara Berpikir Manusia 

Sabtu, 03 Februari 2024 - 12:28 | 29.61k
Prof. Dr. Kamaruzaman dari UIN Ar-Raniry Aceh, Indonesia. (FOTO: Moh Ramli/TIMES Indonesia)
Prof. Dr. Kamaruzaman dari UIN Ar-Raniry Aceh, Indonesia. (FOTO: Moh Ramli/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SEMARANG – Prof. Kamaruzaman dari UIN Ar Raniry Banda Aceh menjadi salah satu narasumber di Annual International Conference in Islamic Studies atau AICIS 2024 yang diadakan di UIN Walisongo, Kota Semarang, Sabtu (3/2/2024).

Dalam pemaparannya, ia mengangkat bahasan terkait moderasi beragama pada dunia digital.

Sosok yang juga Presiden Asian Muslim Action Network (AMAN) ini mengatakan bahwa dunia digital memengaruhi perubahan cara berpikir manusia di masa depan.

"Ada dua cara berpikir, pertama fast (cepat), intuitive (berdasarkan intuisi), dan emotional (bersifat emosional). Yang kedua orang yang slow (santai) dan sangat logis)." jelas Kamaruzzaman.

Ia menjelaskan, orang yang berpikir dengan cara yang pertama cenderung kesulitan menerima konsep moderasi beragama dan akan menciptakan cara beragama yang agresif. 

Sementara orang dengan pola pikir yang kedua akan cenderung toleran dan bijaksana dalam menghadapi perbedaan. Era digital lambat laun menggiring orang-orang untuk meninggalkan cara berpikir kedua (logis dan bijaksana) dan beralih ke cara berpikir pertama (cepat, intuitif, dan emosional).

Pada era digital masa depan, akan banyak perubahan kebiasaan yang terjadi dalam proses transfer ilmu agama karena pengaruh kemajuan teknologi.

Pembahasan lainnya disampaikan oleh Prof. Madya Dr. Kamaluddin Nurdin Marjuni dari Brunei Darussalam. Ia menyampaikan paparan terkait maqashid aqidah dalam bahasa arab. Maqashid aqidah berfokus pada kajian teologis agama Islam.

"Maqashid aqidah menjadi suatu fungsi untuk menghadapi dinamika konflik yang telah menggiring kepada penyesatan dan pengkafiran terhadap golongan lain," kata Kamaluddin.

Menurutnya, kajian maqashid aqidah Islam dapat memberikan pemahaman mendalam tentang esensi ajaran Islam yang mencintai perdamaian.

Ketiga paparan di atas menunjukkan bahwa praktik moderasi beragama dapat dilakukan melalui berbagai sudut pandang keilmuan, tidak terbatas pada sudut pandang agama saja. (*)

**) Ikuti berita terbaru TIMES Indonesia di Google News klik link ini dan jangan lupa di follow.

Advertisement



Editor : Imadudin Muhammad
Publisher : Ahmad Rizki Mubarok

TERBARU

Togamas - togamas.com

INDONESIA POSITIF

KOPI TIMES