TIMESINDONESIA, SURABAYA – Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia (Peraboi) mempersembahkan sebuah aplikasi Istry (Indonesian Sistemic Therapy) 1.0 untuk mempermudah menangangi penyakit kanker di Indonesia. Aplikasi tersebut baru diluncurkan, Jumat (25/6/2021) melalui zoom meeting.
Aplikasi Istry 1.0 sendiri adalah sebuah aplikasi mobile berbayar, berbasis android yang menyediakan platform interaktif bagi tenaga medis untuk memperoleh informasi tentang terapi kanker terbaru yang beredar di Indonesia, terutama kanker payudara, kanker tiroid, kanker kepala leher, kanker jaringan lunak, kanker kulit, dan limfoma.
Ketua Peraboi, dr. Walta Gautama, SpB(K)Onk saat melaksanalan peluncuran aplikasi Isty 1.0
Dalam peluncurannya, Ketua Peraboi, dr. Walta Gautama, SpB (K) Onk menjelaskan bahwa perkembagan penanganan kemoterapi kanker padat di Indonesia sudah sejak 50 tahun silam. Seiring dengan berkembangnya waktu dan berkembangnya teknologi, dalam diskusi tentang kemoterapi forum ilmiah bedah ongkologi yang sering dilakukan salah satu topik yang sering dibahas adalah tentang regimen tertentu yang dipakai di luar negeri atau konsensus.
“Kami pengurus Peraboi coba membuat suatu konsensus dimana, pada tahun 2020 kita telah mengeluarkan konsus terapi sistemik kanker padat, dimana oleh adanya suatu konsensus ini keluarlah suatu ide bagaimana membuat sesuatu yang konsensus ini bisa dijalankan. Bisa menjadi standratisasi mutu pelayanan,” ujar dokter Walta.
Hasil dari konsesus tersebut adalah Istry 1.0 ini. Aplikasi tersebut dapat digunakan oleh dokter ahli bedah onkologi, dokter spesialis dalam bidang onkologi, dokter umum dan perawat yang merawat pasien kanker, dokter perusahaan dan asuransi dan dokter yang bergerak di bidang manajemen mutu pelayanan.
“Aplikasi Istry 1.0 memudahkan dokter untuk mengakses Informasi terkini tentang regimen terapi sistemik untuk kanker padat, mendapatkan informasi tentang nama dagang obat terapi sistemik yang beredar di Indonesia, menghitung dosis obat kemoterapi dan target terapi dan mengakses informasi tentang efek samping obat terapi sistemik,” jelasnya.
Secara tampilan, aplikasi tersebut sangat mudah digunakan. Untuk dapat menggunakannya, kita hanya perlu mendownload di appstore. Didalamnya ada berbagai fitur tentang terapi kanker yang bisa diakses oleh pengguna aplikasi.
Dokter Walta berhar agar kedepan aplikasi Istry1.0 dapat menjadi panduan untuk penyemperunaan terapi kanker di Indonesia. Selain itu juga dapat dikembangkan dalam terapi kanker lain tidak hanya pada kasus bedah onkologi. “Dengan penyeragaman terapi melalui aplikasi digital akan mendorong pengumpulan data dan penelitian mulisenter,” kata ketua Peraboi itu tentang aplikasi Istry 1.0. (*)
Pewarta | : Khusnul Hasana (MG-242) |
Editor | : Wahyu Nurdiyanto |
PM Australia Albanese Akan Kunjungi Indonesia Usai Menang Pemilu
Menko Pangan: Kapolri Kunci Sukses Swasembada
Guru Besar Unair: Kebebasan Berpendapat Dilindungi Konstitusi, Tapi Harus Bertanggung Jawab
Mengagumkan, Batik Saji Pacitan Tembus hingga Pasar Ekspor Swiss
Bupati Probolinggo Tinjau Proyek Pemulihan Pasca-Bencana, Warga Ucapkan Terima Kasih
Dollar Menguat, Bagaimana Nasib Bank Syariah?
Audisi Putri Hijabfluencer Jabar 2025, Wadah Muslimah Gali Potensi dan Inspirasi
Hotel Tugu Malang Tampilkan Akulturasi Budaya di Ruang Baba Peranakan
Program MBG di Jatim Tingkatkan Gizi dan Perekonomian Warga
CEK FAKTA: Tidak Benar! Peserta Uji Coba Vaksin TBC Bill Gates Dapat Bansos Rp150 Ribu